Harry Potter and The Half-Blood Princesses (Baca dulu baru komentar…:D)

Prologue

shizukana kono yoru ni anata wo matteru no
ano toki wasureta hohoemi wo tori ni kite
are kara sukoshi dake jikan ga sugite
omoide ga yasashiku natta ne.

Di malam sunyi ini, aku menunggumu
Seyummu telah pudar dimakan waktu
Dan sekarang, setelah sedikit waktu berlalu,
Kenangan indah mulai muncul kembali.

Seorang gadis berambut perak duduk di ambang jendela sebuah menara yang menjulang cukup tinggi dari atas tanah. Matanya memandang kosong langit malam yang cerah bertaburan bintang.

“Hmm~ rupanya kau di sini, mawar kecilku yang manis,” ujar seorang lelaki paruh baya yang berdiri di ambang pintu, “Menikmati langit malam yang indah?”

“Ya, paman Forbesia,” jawab sang gadis datar, tanpa ekspresi. Walaupun begitu, gerak dan bahasa tubuhnya melambangkan penghormatan.

“Asa, Nerine, dan ayahmu sedang berbincang di bangku bawah,” balas lelaki bernama Forbes itu sambil tersenyum, “tak mau bergabung dengan mereka?”

“Aku…” jawab sang mawar kecil sambil memandang bulan, ragu.
“Aku mengerti,” potong Forbes pelan sambil berjalan ke arah jendela, “Dia sedang bergerak kan?”

Sang mawar kecil hanya mengangguk. Sekilas ia tampak sedikit sedih.
“Tirai telah tersingkap…” balas Forbes dengan mata menerawang jauh.

hoshi no furu basho de
anata ga waratte irukoto wo
itsumo negatteta
ima tookutemo
mata aeru yo ne

Di tempat bintang-bintang beralih,
Ku selalu mengharap senyummu.
Walaupun terpisah sekarang
Kita bisa bertemu kembali, kan?

Seorang gadis berambut panjang tampak sedang menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan. Memandang ke arah meja, ia mendesah pendek.

Di sana terletak sebuah pigura kecil yang berisi sebuah foto tiga orang.
Ia tersenyum kecil, sebelum mendesah murung lagi.

“Hermione~~~ makan pagi sudah siap~~!”

“Ya Mom, aku segera ke sana…” seru Hermione menjawab ibunya sambil merapikan rambutnya untuk yang terakhir kali.

Menoleh untuk terakhir kali ke arah meja, ia mendesah lagi. Ada sesuatu yang tidak beres… dan besar.

itsu kara hohoemi wa konna ni hakanakute
hitotsu no machigaide kowarete shimau kara
taisetsuna mono dake wo hikari ni kaete
tooi sora koete yuku tsuyosade

Sejak senyumku memudar ditelan waktu
Hancur berkeping karena satu kesalahan
Ubahlah kenangan berharga menjadi cahaya dan
Tembuslah angkasa dengan kekuatannya.

Seorang gadis muda berambut pendek sedang berjalan mengelilingi sebuah fasilitas penampungan dan pengembangan klon. Nampak ia memegang sebuah clip-board dengan catatan tentang beberapa obyek penelitian yang sedang disimpan dalam ruangan itu.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya seorang figur berjubah hitam yang baru saja memasuki ruangan.

“Semua klon dalam keadaan nominal. Laju pertumbuhan, 99%. Diharapkan selesai dalam 4-5 bulan ke depan,” jawab sang gadis tanpa ekspresi.

“Bagaimana dengan batch pertama?” lanjut sang sosok misterius.

“Telah selesai beberapa hari yang lalu. Anda ingin meninjaunya?” jawab sang gadis dingin.

“Bagus sekali. Aku bisa memulai percobaan ini,” jawab sang sosok misterius sambil tertawa kecil.

hoshi no furu basho e
omoi wo anata ni todoketai
itsumo soba ni iru
sono tsumetasa wo dakishimeru kara
ima tookutemo
kitto aerune

Di tempat bintang-bintang beralih,
Ku harapkan sukmaku mencapai dirimu.
Ku kan selalu di sampingmu
Karena ku ingin menyongsong dingin itu.
Walaupun kita terpisah sekarang,
Kita pasti ‘kan kembali bersama.

Seorang pemuda berperawakan kecil menatap ke luar jendela kecil yang menghadap ke Privet Drive. Malam yang cukup gelap, ditingkahi gerimis hujan rintik, membuat suasana muram yang dialaminya sejak awal liburan musim panasnya semakin tidak mengenakkan.

Sejenak terpikir olehnya berbagai peristiwa yang telah dialaminya saat ini. Kematian orang yang telah berusaha menyelamatkannya. Kehancuran dan pembunuhan yang telah dilakukan atas namanya.

Ia mendesah sedih.

“Ini telah sampai pada kesimpulannya…” ujarnya pelan, “Cukup aku yang menanggung semua ini…”

Dengan langkah dan bahasa tubuh yang pasti, ia membuka daun jendela yang menghubungkannya dengan dunia luar itu. Disandangnya sebuah ransel bekas yang agak kusam, penampung benda-benda yang mungkin diperlukannya, sebelum ia memakai satu-satunya pakaian peninggalan ayahnya.

“Ini adalah pertempuran terakhir…” ujarnya pada diri sendiri, memompa percaya dirinya hingga titik maksimum.

Dengan langkah yang mantap, ia melompati jendela dalam balutan Invisible Cloak, menuju pelukan malam sepi yang telah menunggunya.

shizuka na yoru ni
Dalam malam sepi ini…

Chapter 1: Impatience
Dibawah tutupan malam gelap itu, sebuah bayangan berjalan pelan menyusuri blok residensial yang bernama Privet Drive itu.

Harry Potter.
The Boy Who Lived.

Hujan yang turun rintik belum bisa menghentikan langkah majunya. Malam ini adalah titik balik hidupnya… dimana ia akan melawannya. Sendirian.

Petir menyambar keras, sebelum Harry menyadari tiba-tiba bahwa seperti ada suara lain yang mengikuti langkahnya. Petir tadi pasti menyembunyikan bunyi yang akan timbul bila seseorang baru muncul ber-apparate. Dengan cepat, Harry membalik badan dan menemukan dua tubuh berjubah hitam, sekitar 30-an meter dibelakangnya.

Satu langkah… dua langkah…

“Jejak panasnya di sini. Itu pasti dia,” ujar salah satu figur berjubah itu. Figur satunya, jelas lebih tinggi sekepala dari figur sebelumnya, hanya mengangguk sambil mengangkat tongkatnya, langsung ke arah Harry.

“Avada Kedavra.”

Harry segera berguling ke samping, menghindari larik sinar hijau yang pernah merenggut nyawa orang-orang terpenting dalam hidupnya itu.

“Aaaah~ sialll…” gerutu si pendek sambil mencabut sebatang golok dari balik jubah hitamnya lalu berteriak, “Supacalifragalistaxtapallidociaa!”

Harry tersentak. Bagaimana mungkin dia merapal mantera aneh itu tanpa tongkat?, teriaknya dalam hati.

Tapi tak ada waktu untuk kaget sekarang. Si pendek itu langsung bergerak cepat bak ninja-ninja dalam game yang dimiliki Dudley. Sekejap mata saja si pendek sudah berada di samping Harry, siap memenggal kepalanya dengan satu sabetan golok yang dipegangnya.

Harry menunduk dan berguling ke samping, tepat kala golok si pendek akan menyentuh lehernya, sebelum meloncat mundur sambil mencabut tongkatnya. Namun sebelum Harry sempat bereaksi, si pendek sudah terlebih dahulu roboh bersimbah darah dari dua lubang tembakan di keningnya.

“Fyuuuh~ untung dia cukup dekat…” desah sebuah suara tanpa bentuk di dekat Harry.
Sementara itu si besar juga tak tinggal diam. Ia langsung mengacungkan tongkat ke arah Harry, namun sebelum sempat mengucapkan mantera apapun, iapun roboh ke samping dengan dua lubang tembakan di dahi kirinya.

“Sayang sekali mereka sempat melempar mantra…” ujar suara misterius itu lagi, “Suit Decloak.”

Pemandangan yang tidak umum langsung menyambut Harry. Ia mendapati seorang pemuda yang dibalut baju ketat berbahan hitam mengkilat dari ujung kepala hingga ujung kaki, kira-kira seumurannya, muncul dari udara kosong membawa sepasang pistol berperedam suara.

“Kau…” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Harry.

“Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini… pasti sekarang rumah kita penuh surat dari kementerian…” ujar sang pemuda sambil melempar sebuah kacamata berlensa merah ke arah Harry, “Pakailah. Kau bisa melihatku dengan kacamata itu.”
Mereka sekarang berdiri di sebuah bukit kecil, kira-kira beberapa mil dari Privet Drive. Hujan masih turun, namun tak sederas tadi.

“Nampaknya mereka masih bertempur dengan para Death Eaters di daerah sekitar rumah Dursley. Kita belum bisa kembali sekarang,” ujar sang pemuda misterius sambil mengecek sesuatu di pergelangan tangannya.

“Kukira aku harus mengucapkan terima kasih,” ujar Harry sambil melepas kacamata berlensa merah yang tadi dipakainya.

“Haha, tak masalah… sudah jadi tugasku untuk melindungimu,” ujar sang pemuda sambil tersenyum. Rambutnya yang pirang sepundak menjuntai basah, baru bebas dari kungkungan tudung baju yang sedari tadi dikenakannya.

“Jadi sebenarnya siapa kau?” lanjut Harry penasaran, “Apa kau anggota Orde juga?”

“Secara formal bukan, tapi kira-kira begitulah…” ujar sang pemuda sambil mengibas-ngibaskan rambut basahnya, “Sudah beberapa bulan ini kami menggantikan para Dursley sambil menunggu saat yang tepat.”

Harry tersentak. Jelas-jelas ia berada di sekitar para Dursley selama liburan musim panas ini, namun sedikitpun ia tidak menyadari kalau para Dursley “digantikan”.

“Tapi bagaimana…?” desis Harry tak percaya.

“Yah, kami tidak sehebat kalian yang mempunyai Polyjuice… tapi kami mempunyai teknologi holografi optik yang cukup untuk mengubah penampilan kami, atau bahkan menghilang seperti tadi,” jelas sang pemuda sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman, “Kita belum berkenalan. Kurz Weber, CSF.”

Ragu Harry menerima tawaran jabat tangan sang pemuda.

“Kami unit khusus yang bekerja langsung dibawah komando Albus Dumbledore. Dia ingin menjamin kemananmu secara tidak mencolok di dunia muggle,” jelas Kurz sambil mengamati sekeliling, “untuk itu, ia menjalin kerjasama dengan beberapa perwira tinggi dari Pentagon, Downing 10, KGB, Mossad, dan Kopassus untuk membentuk unit ini. Kau ingat Koa Reakizh? Kudengar dia ditempatkan di Gryffindor juga.”

“Kukira aku pernah mendengar namanya beberapa kali… ia bawahan kalian juga…?” tanya Harry sambil mendengarkan penjelasan yang sepintas tak masuk akal itu.

“Yah, boleh dikatakan begitu. Kami juga mempunyai kontak di asrama lain. Bahkan salah satu pengurus Hogwarts pun menjadi kontak kami atas perintah Dumbledore,” jawab Kurz sambil duduk di sebuah batang kayu melintang, “Tapi hal itu tidak penting sekarang. Yang sekarang sedang kami pikirkan adalah bagaimana kami melumpuhkan sebuah fasilitas milik Lucius Malfoy dekat sini…”

“Fasilitas macam apa?” sambar Harry cepat.

“Maaf, tapi hal ini masih perlu penyelidikan lebih lanjut. Kami seharusnya belum melepas informasi ini ke pihak Kementerian…” sahut Kurz sambil menoleh ke arah timur.

“Tapi… kukira ini saat yang tepat untuk meyerbunya!” sembur Harry sambil berdiri, “Kalau letaknya dekat sini, pasti sebagian penjaga yang ada dialihkan untuk meyerbu Privet Drive! Penjagaan pasti melemah!”

“Kau benar juga… yah, kukira tak ada salahnya kita mengintip mereka sebentar,” ujar Kurz sambil tersenyum.
“Gyr Dolour Base… begitulah yang dikatakan beberapa Death Eater yang berhasil kami tangkap dan kirim ke Tel Aviv. Entahlah, mungkin kata-kata itu yang tertangkap oleh agen-agen Mossad, tapi rata-rata Death Eater yang kami tangkap dan interogasi mengakui adanya fasilitas ini,” jelas Kurz yang berdiri di atas bukit yang berdiri di belakang fasilitas itu.

“Hmm… seperti yang kukira, penjagaannya agak longgar…” gumam Harry sambil mengamati patroli-patroli yang menjaga bangunan bak benteng yang membentang dibawah mereka itu, “walaupun begitu, tetap sulit membobol fasilitas ini berdua…”

“Berminat mengetuk pintu depan dan masuk?” canda Kurz sambil tertawa kecil. Harry tetap tenang, tapi tak urung saran Kurz itu membuatnya bergidik juga.

Tiba-tiba suara kemeresak terdengar dari belakang mereka. Harry dan Kurz langsung menyembunyikan diri mereka dengan perangkat persembunyian masing-masing. Dengan gugup mereka menunggu wujud benda yang mengagetkan mereka tadi.

“GROOOARR!”

Tiba-tiba sebuah cakaran mendarat di pundak kanan Harry, merobek kulitnya dengan ganas. Kurz langsung menembak 2 kali, sedikit diatas pundak Harry yang tercakar itu, namun tampaknya tembakan Kurz hanya menembus angin.

Petir menyambar keras, dan tampaklah penyerang mereka.

Seekor hewan besar, namun berdiri diatas dua kaki yang dipunyainya. Mulutnya yang sedang menyeringai tampak penuh gigi tajam, sementara ujung jarinya dilengkapi cakar besar. Kulitnya dipenuhi bulu berwarna loreng.

“Weretiger…” desis Kurz sambil melongok sekeliling, “ini benar-benar jelek… pasti sebentar lagi para Death Eater yang berjaga akan menghampiri kita…”

“Revitalia,” geram Harry sambil mengarahkan tongkatnya ke luka yang baru didapatnya. Luka itu pun menutup perlahan.

Belum sempat luka itu tertutup total, sang weretiger menyerang lagi. Harry sempat mengelak, namun tak urung mantera penyembuhan yang dirapalnya gagal dan lukanya terbuka lagi.

“Harry, kau pergilah duluan! Aku akan menahannya sebentar disini!” teriak Kurz sambil menembak tangan sang weretiger dua kali. Namun kemampuan penyembuhan weretiger yang sangat tinggi membuat tembakan Kurz seolah tak berguna. Luka akibat terjangan peluru itu segera menutup. Sang weretiger pun menyerang Kurz lagi, namun dengan lincah ia mengelak.

“Incendio,” bisik Harry sambil mengarahkan tongkatnya ke sebatang kayu tumbang. Sebentar kemudian, api yang cukup besar berkobar di kayu itu. Segera Harry menaburkan bubuk floo ke dalam api tersebut, lalu dengan cepat masuk tanpa sempat memikirkan tujuannya dengan jelas.
Suasana yang cukup ceria menyelimuti seluruh bangunan kastil Hogwarts, didukung oleh dekorasi yang meriah untuk penyambutan murid baru. Prof. McGonnagall sementara menjabat sebagai kepala sekolah, sementara Kementerian menyeleksi para calon yang tepat untuk kepala sekolah tetap.

Namun, kegembiraan itu seperti tidak ditakdirkan berlangsung lama.

Dua orang elf berkulit gelap tampak bertemu dalam sebuah ruangan bawah tanah yang diterangi temaram oleh sebatang lilin. Seorang manusia, yang tak lain adalah Severus Snape, tampak sudah menunggu mereka.

“Vendui’,” ujar Snape pendek dalam bahasa drow, bahasa ibu para dark elf yang menemuinya itu.

“Sel’varess, hau phor gaer?” tanya seorang gadis elf berkulit-gelap. Bagaimana di atas sana, tanyanya dalam bahasa drow.

“Cukup bagus. Mereka sedang menghadiri acara pembukaan tahun ajaran,” ujar Snape sambil meminum sebotol kecil ramuan, “Nau alur draeval.”

Tak ada waktu yang lebih baik, memang, pikir sang gadis, membenarkan kalimat terakhir Snape yang dikatakannya dalam bahasa drow.

“Dos orn tlu phlithus, Sel’varess, usstan dalninuk,” ujar sang pemuda sementara sosok Snape berubah menjadi dark elf seperti mereka. Sorot matanya seakan mengatakan apa yang ia katakan dalam bahasa drow tadi: Kau akan dibenci, Sel’varess saudaraku…

“Xunin ukt khaless zhah phor jal,” balas Snape/Sel’varess sambil menepuk pundak sang pemuda dan tersenyum penuh arti. Sang pemuda hanya tersenyum saat ia mendengar pepatah lama kaum dark elf tentang kepercayaan itu: menunaikan kepercayaannya adalah diatas segalanya.

“Saa, udos thalackz’hind?” ujar sang gadis, setelah Sel’varess selesai memperlengkapi dirinya. Apakah kita akan menyerang?, batinnya bertanya.

“Xas. Jal Oloth Velven wun k’lar, Drizzt?” tanya Sel’varess. Apakah semua Pisau Kegelapan sudah di tempatnya, pertanyaan Sel’varess menyadarkan Drizzt, sang pemuda dark elf itu, dari lamunan sejenaknya.

“Xas, xas… jal wun k’lar. Usstan uil vust’av,” jawab Drizzt sekenanya. Ia yakin sudah mengecek posisi para anggota Pisau Kegelapan sebelum ke sini.

“Bwael. Faernen wun k’lar, M’ein?” ujar Sel’varess sambil menoleh ke arah sang gadis. Sang gadis hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sel’varess yang menanyakan apakah para penyihir sudah bersiaga ditempatnya.

“Bwael, bwael… thalckz’hind nina…”

Dinding-dinding bisu seakan mengulangi perintah terakhir Sel’varess.

Bagus, bagus… serang mereka…

Chapter 2: Secrets
Seorang berjubah hitam yang diiringi beberapa orang memasuki ruangan berkubah yang dipenuhi rak. Sebentar kemudian, ia disambut oleh seorang dalam balutan jas panjang putih yang berdiri didepan sebuah meja berlumuran darah.

“Hormat saya, Tuanku… seperti yang anda lihat, beginilah keadaan Gyr Dolour akhir-akhir ini…”

“Kulihat kau senang sekali bersantai-santai, Shevanikov,” ujar sang jubah-hitam sambil memandang ke arah mayat berdarah-darah diatas meja, “apa lagi itu?”

“Ah, hanya spesimen salah satu penjaga kita yang mati oleh beberapa .50 JHP… well, anda tahu kulit susah melawan benda seperti itu,” balas Shevanikov sambil tersenyum gugup.

“Kalau begitu buat mereka semua memakai cangkang! Kita sudah jauh dibelakang jadwalku!” seru sang figur berjubah menggelegar. Sepertinya seisi ruangan bergetar karena rasa takut.

“Er… ha… Tuanku, kami masih berusaha…” balas Shevanikov terbata-bata. Namun tanpa ampun, serentak itu pula tubuhnya melayang ke udara, dengan leher yang tampak berkurang lebarnya. Tangan sang Tuan terangkat bak sedang mencekik Shevanikov.

“Ka… kami mohon ampun, Tuanku… tapi… proyek bio-weapon yang sedang dilakukan masih menemui beberapa kendala… contohnya, kami belum bisa membuat Frost Wyrm…” potong seorang berjubah putih yang tergopoh-gopoh muncul dari balik rak-rak.

“Razdee… hmh, sayang sekali… kalau begitu nampaknya kita harus mengubah strategi kita lagi… walaupun mungkin mengkompromi keseimbangan kekuatan kita,” gumam sang Tuan sambil menurunkan Shevanikov dari cekikan jarak jauhnya. Shevanikov langsung tergeletak lemas, menyedot udara segar sebisanya.

“Kalau begitu, kalian percepat produksi instalasi! Kita bisa mempergunakan pasukan infantri Uruk-Hai dan Orc sebanyak-banyaknya. Sisipkan juga pengetahuan dasar bersenjata dan doktrin ketentaraan ke dalam ingatan mereka!” seru si Jubah Hitam sambil memberikan isyarat tangan, “Kalau kalian masih gagal juga… ketahui akibatnya.”

Razdee dan Shevanikov hanya bisa menunduk ketakutan, hingga yakin si Jubah Hitam telah meninggalkan tempat itu.
“Nnnhnnn…”
Harry menggeliat bangun dari tidurnya. Setelah meloncat kedalam api Floo, ia tak ingat apa-apa lagi. Bahkan tujuannya semula. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Isi kepala Harry serasa diaduk-aduk, memaksanya bangun dari tidur yang mencengkeram erat dirinya malam itu.

“Hmmrrghh…” geramnya pelan.

“Ah, ia bangun.”

Suara pendek dan tanpa ekspresi milik seorang gadis itu menyadarkan Harry kalau ia tidak sendirian saat itu. Perlahan dibukanya mata, hanya untuk mendapati seorang berambut perak panjang menatap kembali ke arahnya.

“Aku…” desah Harry pelan.

“Sebentar,” balas sang gadis cepat, tetap tanpa ekspresi.

Iapun menghilang segera dari pandangan Harry, hampir seperti berapparate. Kecuali Harry tidak menyadari kalau sang gadis seperti menguap begitu saja ke udara tanpa suara khas yang biasa mengiringi apparate.

“Ah, sudah sadar rupanya,” ujar sebuah suara yang berat, seperti suara pria setengah umur. Nampaknya ada orang lain yang masuk, pikir Harry sambil mengucek matanya yang masih kabur.

“Hmm, nampaknya perawatan dengan tangki bacta menampakkan hasil yang bagus… nampaknya efek dari The Void sudah hilang sepenuhnya dari sistemnya,” timpal sebuah suara lagi, yang bernada sedikit lebih tinggi dari suara sang lelaki pertama.

“Baguslah kalau begitu. Untuk sentuhan terakhir…” sambung sebuah suara ketiga, “Esuninha.”

Seketika itu juga Harry merasakan energi memenuhi seluruh tubuhnya, membuat sel-selnya yang tadi masih tertidur bangkit dan mulai memperbaiki tubuh dari dalam. Tenaga tubuhnya pun perlahan kembali pulih, begitu pula dengan penglihatannya. Dalam hitungan menit Harry sudah bisa duduk tegak sambil memandang ke sekelilingnya dengan agak bingung.

“Aku… dimana?” tanya Harry sambil memandang bingung pada ketiga orang penolongnya.

“Kau sedang ada jauh didalam hutan Sherwood, tepatnya di Verbena Magical Institution. Kami adalah para kepala sekolah ini,” ujar sang setengah-umur, yang ternyata adalah lelaki tinggi-besar dalam balutan baju longgar yang nampaknya dapat digunakan dalam pertarungan, “namaku Eustoma Faradhziel.”

“Bagaimana…aku bisa berada di sini?” tanya Harry lagi.

“Kau tersesat ke dalam The Void, anak muda. Sangat mungkin kau kurang memikirkan tujuanmu atau kurang berkonsentrasi saat kau ber-apparate atau memakai portal dari bubuk floo, sehingga proses perpindahan yang kau lakukan menjadi tidak sempurna dan menyebabkan dirimu malah terhenti di dalam The Void. Itu sangat berbahaya untuk kalian, para manusia,” ujar sang pemilik suara tinggi yang bertubuh mungil, “Kami kebetulan menemukanmu melewati salah satu probe pengawasan kami, jadi kami menyelamatkanmu. Oh ya, dimana kesopananku. Namaku Yoda Vaer’blynthe.”

“Yah, sebenarnya kami juga sedang menunggu kabar dari Dumbledore tentang kepergianmu ke sini, Harry Potter. Kami diminta olehnya untuk mengajarkan ilmu kami kepadamu. Ah, ya… sebelum aku lupa, namaku adalah Forbesia Nalthantius. Senang bertemu denganmu,” ujar pria ketiga, yang tadi terdengar merapal mantra oleh Harry.

“Tunggu… kalian mengenal… Dumbledore…?” ujar Harry bingung, “dan kalian… sudah menungguku?”

“Yaa~ kira-kira begitulah. Dumbledore mengontak kami beberapa bulan yang lalu, katanya kolam Hogwarts sudah terlalu kecil untukmu,” ujar Eustoma sambil duduk di kursi.

“Tapi… Voldemort… aku…” balas Harry, tak yakin apa yang dapat ia sampaikan.

“Kami sudah mengetahui itu semenjak lama, anak muda. Bila kau berencana menghentikannya seorang diri sekarang, kau menghadapi resiko yang sangat besar… terutama karena kaulah satu-satunya orang yang dapat menghentikannya,” ujar Yoda sambil duduk di samping kaki Harry.

“Aku…?” desah Harry tak percaya.

“Ya. Voldemort membuat bekas luka ini untuk menandainya. Mungkin kau tidak pernah menyadarinya, namun bekas luka ini adalah pertanda bahwa kau telah diikat dengan ikatan yang disebut Nexus,” balas Forbesia sambil menyentuh bekas luka Harry, “dan sudah tergariskan bahwa hanya Sang Penerima Nexus-lah yang dapat menghancurkan Sang Pembuat, dan juga sebaliknya.”

Harry tampak kecewa.

“Kami tahu apa yang kau pikirkan, anak muda. Kekuatan sihirmu memang belum setinggi Voldemort, setidaknya untuk saat ini. Namun, kami akan membantumu meningkatkan kekuatan dalam waktu yang cukup singkat… dan kekuatanmu akan bertambah beberapa puluh kali lipat. Bagaimana?” tanya Yoda lembut.

“Kami bukanlah iblis atau malaikat. Kekuatan yang nantinya kau miliki adalah kekuatanmu sendiri, bukanlah kekuatan milik entitas yang lebih tinggi,” tambah Forbesia sambil tersenyum.

“Haha, bila kau menerima latihan dan pelajaran dari kami, kau akan menjadi manusia terkuat nomer satu di bumi. Kau akan jauh melebihi Kingsley Shacklebolt, Minerva McGonagall, Albus Dumbledore… atau bahkan Merlin yang kalian muliakan sekalipun. Tidak akan ada lagi bahaya yang dapat diberikan oleh sesama manusia kepadamu, bahkan bila jumlah mereka seratus atau seribu kali lipat dari dirimu. Kau tak akan pernah mengalami kekalahan lagi… kau akan menjadi yang tertinggi di bumi ini,” tambah Eustoma panjang sambil tersenyum lebar.

Harry hanya terdiam, membuat ruangan itu sunyi sesaat.

“Kau akan dapat mengalahkan Voldemort,” tawar Forbesia pendek, senyum tersungging di bibirnya.

“Aku mau.” jawab Harry yakin.

Ron hanya bisa menggerutu pelan sambil berusaha memperbaiki posisinya dalam karung yang sedang dibawa berjalan itu.

Serangan mendadak para drow ke pembukaan tahun ajaran baru Hogwarts sangat mengejutkan mereka. Tidak sedikit yang terluka dan tewas akibat serbuan mendadak yang nampaknya telah direncanakan dengan sangat rapi itu. Walaupun jumlah guru dan murid-murid yang berkompeten melebihi para drow sekitar tiga banding satu, tetap saja strategi para drow yang menang. Ron sendiri tidak terlalu mengerti mengapa ia malah ditangkap dan bukan dibunuh saja.

“Inbal jal tluss ply’ussus?*” tanya seorang diluar. Ron hanya bisa merengut karena tidak mengerti bahasa para drow itu.

“Xas… zhallus tlu jal. Xal tlu gaer zhah jalbyr velkyn k’lar… jhal vel’uss jhaun?**” jawab sang pemanggul karung. Ron mengenali suaranya sebab dari tadi ia bersenandung sambil memanggul karung berisi dirinya.

Setelah berbincang sebentar dengan sang penanya, sang pemanggul terasa maju beberapa langkah sebelum berhenti dan bertanya, “inbal nind ragarus Lil Drada?***”

“Xas. Lil Drada inbal tlus plynnus ulu lil har’ol,****” jawab sang penanya.

Hermione merasakan nyeri ketika karung yang berisi dirinya membentur tanah dengan cukup keras. Dalam hati ia menggerutu.

“Belbau obsul^,” ujar seseorang dalam bahasa yang tidak dimengerti Hermione. Karungnya pun terbuka. Hermione langsung mencoba mengambil tongkat yang dari tadi ia sembunyikan dalam kantung, namun dihentikan oleh todongan pedang seorang pemuda berkulit gelap pada dahinya.

“Aku tahu apa yang akan kau lakukan. Bila tak ingin mati konyol, jangan lakukan. Angkat tanganmu,” ancam sang pemuda datar. Hermione tak berkutik dan menuruti perintah sang pengancam.

“Hmm, kulihat kau sudah bisa menenangkan rothe^* kita yang satu itu,” balas seorang yang nampaknya lebih tua, “tak seperti yang ini. Aku harus menidurkannya dengan paksa dulu.”

Ekor mata Hermione menangkap sesosok tubuh yang tergeletak lemas tak jauh dari posisinya. Ia tak yakin siapa, namun sepertinya ia mengenalnya.

“Mana Yang Kedua?” ujar sang pemuda, pedang kini terarah ke leher Hermione.

“Oh, disana, dekat makam. Sedang ditangani oleh M’ein. Mungkin sebentar lagi akan digunakan sebagai kurban untuk membangkitkan ‘itu’…” jawab sang pria tenang.

Kesabaran Hermione sontak habis. Sudah terlalu banyak ia melihat kematian hari ini. Dengan sebuah teriakan, Hermione menendang selangkangan pemuda yang mengancamnya sekuat tenaga, sebelum merebut sebilah pedang yang tadi digunakan untuk mengancamnya untuk menyerang sang pria.

“Buru-buru sekali,” komentar sang pria pendek sambil menyambut serangan membabi-buta Hermione dengan mudah.

Pertarungan itu sangat tidak seimbang. Hermione tak pernah diberi kesempatan untuk mencabut tongkat sihirnya, sebaliknya sang pria dengan enteng menghindari serangan pedang Hermione sambil sesekali menyerang balik untuk mencegah Hermione mencabut tongkat.

Pertarungan tidak imbang itu berjalan sebentar. Dengan sebuah gerakan yang mulus, sang pria menghantam pelipis Hermione dengan cukup keras dengan punggung pedang, hingga Hermione terhempas ke tanah.

Diantara kesadarannya yang sudah mulai hilang, Hermione mendengar lamat-lamat suara langkah kaki dan pembicaraan orang ketiga.

“Seharusnya kau tidak sekeras itu pada murid, Snape…” ujar sang orang ketiga.

“Heheh, murid yang ini memang perlu sedikit diberi pelajaran… pak Kepala Sekolah,” jawab sang pria sambil tertawa kecil.

Setelah dua kalimat itu, semuanya gelap bagi Hermione.

Chapter 3 – Endeavors
Sinar matahari yang hangat membangunkan Harry melalui jendela yang ada di kamar yang tak seberapa luas itu. Harry mengucek-ucek mata, hanya memastikan apakah apa yang dijalaninya semalam benar ataukah mimpi semata.

“Ah, kau sudah bangun rupanya. Tidurmu nyenyak?” tanya seorang gadis berambut panjang kemerahan yang duduk di samping tempat tidur Harry.

“Yah, begitulah…” jawab Harry sekenanya.

“Baguslah. Seharusnya sebentar lagi Nerine akan membawakan makanan…” jawab sang gadis sambil membantu Harry duduk tegak, “Kau harus beristirahat dan olahraga ringan dulu sekitar 3-4 hari sebelum cukup fit untuk dilatih oleh Ayah. Oh ya, kita belum berkenalan… namaku Ashanael Lishianthia, tapi biasanya orang-orang di sini memanggilku Shia.”

“Er… namaku Harry Potter… kalau kau belum kenal,” ujar Harry sambil memandang Shia cukup lekat.

“Hahaha, tentu saja aku mengenal nama legendaris itu. Aku hanya belum mengetahui orangnya,” balas Shia sambil tertawa kecil, “Aku tidak terlalu mengira orangnya akan…”

Tiba-tiba pintu dibuka, memotong percakapan Shia dan Harry. Dua gadis, satunya berambut biru laut dan satunya putih-perak, masuk ke dalam ruangan itu. Harry mengenali sang gadis berambut putih-perak sebagai orang yang pertama kali ia lihat begitu sadar di tempat ini.

“Makan pagi sudah siap~” ujar sang gadis berambut biru laut, membawa senampan penuh makanan, “Ara, saya kira Harry masih belum sadar…”

“Neri~~ Aku sudah lapar menunggumu… Ayah masak apa?” potong Shia sambil menghirup dalam aroma sedap yang menyebar dalam ruangan.

“Um… bubur seledri dan telur, potongan-potongan sosis dan ayam yang digoreng… dan roti resep dari bibi Amarael. Ternyata benar, roti nya enak sekali~” jawab sang gadis berambut biru sambil tersenyum, sementara sang gadis berambut perak mengangkat meja pojok yang berukuran sedang untuk menampung peralatan makan dan hidangan.

Sebentar mereka menyiapkan tempat makan, sebelum akhirnya mengajak Harry makan. Harry, dengan perut yang kosong sejak entah kapan, menerima ajakan itu dengan senang hati.

“Ah, aku hampir lupa memperkenalkan diri,” ujar gadis berambut biru itu selesai menyiapkan tempat, “namaku Nerine Charea. Aku adalah putri dari raja bangsa Abyssal, Forbesia Nalthantius. Senang bertemu denganmu, Harry Potter.”

“Ah, ya… er, kukira senang bertemu denganmu juga… er, Nerine,” Jawab harry sambil mengambil makanan. Sementara itu, sang gadis berambut perak diam membisu sambil menikmati hidangan.

“Dan ini, er… Primula N’evalaira. Dia memang pendiam, namun kau baru akan mengetahui kekuatan utuhnya saat ia mengangkat pedang,” ujar Shia sambil menyikut-nyikut sang gadis berambut perak.

“Senang bertemu,” tambah Primula pendek. Harry hanya bisa tertawa salah tingkah.

Beberapa saat, hanya suara mangkuk dan sendok yang beradu saja yang mengisi kesunyian kamar Harry. Seakan ada sesuatu yang ditahan diantara mereka berempat.

“Er… jadi, sekolah semacam apa Verbena ini?” tanya Harry memecah kesunyian.

“Hm… sebenarnya tidak terlalu jauh dengan sekolah sihir biasa,” jawab Nerine sambil mengambilkan tambahan bubur untuk Shia, “walaupun kurikulumnya agak berbeda. Di sini, satu periode ajaran bisa mencapai 4-5 tahun.”

“Lama sekali,” balas Harry secara refleks, “Dalam jangka waktu itu, rata-rata murid Hogwarts sudah bisa lulus dari sekolah.”

“… dengan bayaran kompetensi,” potong Primula pendek dan tanpa ekspresi.

“Tapi kami masih meluluskan penyihir-penyihir berkualitas setiap tahun!” sergah Harry.

“Hanya untuk menjadi korban satu-persatu. Kami tahu apa yang diperbuat Grayback dkk. beberapa waktu lalu,” balas Primula tajam sambil meletakkan mangkoknya di meja.

“Tapi itu serangan mendadak! Kami tidak siap!” seru Harry sambil berdiri. Nerine dan Shia hanya bisa mendiamkan mereka dengan khawatir.

“Baik… akan kubuktikan padamu seberapa jauh ketidak-kompetenan lulusan sekolah sihir konvensional… bila itu maumu,” balas Primula sambil berdiri, “ambil tongkatmu di laci sebelah tempat tidur. Kutunggu kau di bawah.”

“Baik!” Ujar Harry sambil mengambil tongkatnya. Nerine hanya bisa memandang Shia dengan khawatir, sementara Shia hanya tersenyum simpul.
Sejenak kemudian, mereka berdua sudah berdiri berhadapan di lapangan yang ada di sekitar bangunan kastil kecil Verbena. Harry menggenggam tongkatnya dengan marah, sedangkan Primula dengan tenang memegang sebuah bola metal mengkilap di tangan kanannya.

“Titanium aluminat, sebelas inci, jantung golem… aku mempunyai senjata yang lebih kuat, namun untukmu… aku kira senjata latihan ini cukup,” kata Primula tanpa ekspresi. Bola metal di tangan Primula kemudian menggeliat dan memanjang seolah mendengar perintah dari tuannya, membentuk tongkat mengkilat yang kemudian tergenggam erat memeluk tangannya.

“Jangan meremehkanku! Incendio!” teriak Harry sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Primula, larik sinar merah membara keluar dari ujungnya.

“Kembang api…” desis Primula datar, “Biar kutunjukkan api yang sebenarnya. Hell Crush.”

Serentak, dari depan tubuh Primula timbul bintang heksagram api yang menahan mantera Incendio milik Harry. Sedetik setelah itu, dari tengah bintang itu meluncur selarik api seukuran mobil sedan ke arah Harry.

“Protego!” teriak Harry untuk mengimbangi mantera menyerang milik Primula. Alih-alih melindunginya, perisai putih milik Harry langsung pecah diterjang ledakan larik sinar api di depannya. Harry terdesak lima langkah ke belakang.

“Sudah mengerti seberapa jauh beda kekuatan antara kau dan kami?” tanya Primula sambil mengibaskan tongkatnya ke samping, “kau harus bersyukur, kekuatan mantra tadi bahkan belum sepadan dengan sepuluh persen kekuatan aslinya. Bila aku menggunakan senjataku yang asli, kau sudah jadi abu oleh serangan tadi.”

“Tidak! Aku tidak terima! SECTUMSEMPRAAAAAA!” teriak Harry, marah karena harga dirinya terluka. Tongkatnya mengibas liar, bak pedang yang disabetkan ke lawan.

“Hmh. Mantra Pisau-Angin tingkat rendah…” geram Primula datar.

Primula bahkan tidak tergores sedikitpun saat ia terhantam oleh salah satu mantra ciptaan Snape itu. Dengan tenang ia ‘menggambar’ bentuk bintang segilima di udara depannya dengan tongkat.

“Dengan ini kuselesaikan… CANNON BUSTER!”

Harry bahkan tak sempat mengelak. Tubuhnya tertekan keras oleh sinar putih yang menyerbu dari bintang segilima itu, bak dilabrak kereta api yang melaju kencang. Segera kesadaran Harry hilang, diikuti terpentalnya tubuhnya ke arah belakang.
“Ehrrrrhhh…” geram Harry pelan sambil berusaha bangkit dari berbaringnya.

“Sabar, Harry. Tubuhmu masih terluka cukup parah karena serangan mantra Cannon Buster milik Primula,” ujar Forbesia sambil menenangkan Harry, “Kau baru saja kami keluarkan dari tangki bacta.”

“Berapa…. lama aku pingsan…?” tanya Harry lemah. Tubuhnya serasa dipotong-potong.

“Beberapa menit lewat lima belas jam… nampaknya tubuhmu tidak kuat menerima kekuatan mantera itu,” jawab Forbesia sambil menyelimuti Harry. Harry hanya diam membisu dalam kekesalan.

“Aku mengerti perasaanmu,” ujar Forbesia sambil menepuk lembut bahu Harry.

“Aku… belum pernah merasa selemah ini,” desah Harry pelan, “membuatku merasa apa yang selama ini kulakukan sia-sia…”

“Bagus, kalau kau sudah menyadari perbedaan kekuatan diantara kalian. Sekarang kau punya gambaran seberapa kuatnya Voldemort, kan?” tambah Forbesia sambil tersenyum, “Primula mungkin bisa menahan imbang Voldemort yang sekarang seorang diri, namun ia tak akan dapat mengalahkannya, sementara Voldemort akan bertambah kuat.”

“Apa aku bisa… mengejar kekuatan Voldemort tepat waktu?” tanya Harry dengan raut bingung.

“Dengan cara kami, tentu bisa,” jawab Forbesia lembut sambil tetap tersenyum.
“Selamat siang, tuanku,” ujar seorang wanita muda yang tampaknya adalah seorang sekretaris, menyambut seorang yang dibalut jubah hitam yang baru saja memasuki ruangan yang mirip kantor itu.

“Hmm. Bagaimana laporan persiapan dari Mos Eisley dan Eshtar?” tanya sang tuan sambil menggantung jubahnya lalu duduk di kursi yang tampak diperuntukkan untuknya.

“Ah… laporan dari Mos Eisley baru saja masuk pagi ini… mereka telah memproduksi sekitar 200 mobile suit baru dalam bulan ini, menambah kekuatan pasukan kita menjadi 2500 unit mobile suit. Kebanyakan tipe Lion, tapi mereka juga memproduksi tipe Grandgust dan Hyukevain. Tentang Eshtar… well, mereka baru selesai membangun kubah luar, dan sekarang sedang mengetes kekuatannya… selain itu juga mereka sedang menyelesaikan pembangunan dok, catapult peluncur mobile suit, dan fasilitas tempur lainnya,” lapor sang sekretaris panjang-lebar sambil sesekali memeriksa selintas setumpuk kertas di tangannya.

“Hmm… cukup baik… bagaimana dengan fasilitas kloning yang ada di Eshtar? Ada laporan?” balas sang tuan sambil menyandarkan tangan ke dudukan kursi.

“Izinkan saya yang melaporkannya,” ujar sebuah suara tanpa ekspresi dari udara kosong. Sang tuan hanya tersenyum penuh arti sebelum mempersilahkan sang ajudan keluar.

“Rei Ayanami, datang melapor,” kata seorang gadis berkulit pucat yang muncul segera setelah pintu ruangan ditutup.

“Sudah saatnya…” balas sang tuan, sebelum ia jatuh dan seolah tenggelam ke dalam kursinya, tampak sangat letih.

“Tuanku… sebelum itu…” ujar Rei, keraguan sedikit tercermin dalam nada datar suaranya.

“Aku… tak apa-apa, Rei. Hanya sedikit kelelahan,” ujar sang tuan, berusaha memperbaiki posturnya.

“Tapi… anda telah bekerja selama 72 jam nonstop bersama kami di Eshtar, dan saya asumsikan anda belum beristirahat sejak anda pergi meninjau Gyr Dolour, tepat 28 jam yang lalu. Tubuh anda berada dalam kondisi yang amat buruk, dan saya… sebagai seorang praktisi medis… tidak boleh membiarkan hal itu terjadi,” balas Rei, sambil menunjuk sebuah sofa yang ada dalam ruangan itu, “Paling tidak anda bisa menerima laporan saya sambil berbaring.”

“Hmh… sekuat apapun aku sebagai penyihir, alam tetap tak kehabisan cara memaksaku tunduk,” geram sang tuan, tersenyum masam pada Rei sembari berbaring di sofa tersebut.

“Lebih baik. Karena kerja keras anda, produksi Hor-clone kami maju pesat melewati jadwal. Sebanyak 24 sekarang sedang diprogram dengan MAGUS, dan sebanyak 75 blastula sedang menunggu pengembangan lebih lanjut. Selagi kita berbicara, seharusnya sekitar separuh sudah mencapai umur pemrograman,” lapor Rei.

“Hmm. Sudah menemukan yang kuat diantara mereka?” tanya sang tuan sambil menyihir segelas air dan meminumnya.

“Sudah. Klon dengan kode W-00, W-13, W-15, W-16, W-17, W-20, dan W-23 sekarang sedang dilatih secara khusus oleh MAGUS. Kami menamakan mereka masing-masing ‘Gabriel’, ‘Sephiroth’, ‘Odin’, ‘Echidna’, ‘Lamia’, ‘Ravan’, dan ‘Tabriz’,” lanjut Rei, tetap berdiri dengan sikap sempurna.

“Bagus, semua sesuai ramalanku… 7 klon, 7 elemen… cahaya, kegelapan, api, air, angin, bumi, dan kekosongan… lanjutkan,” ujar sang tuan sambil menyelesaikan gelas keduanya.

“Selain itu, pembangunan unit-unit Evangelion di Eshtar sedang terus berlangsung. Perisai metal yang dimanufaktur Mos Eisley juga sudah sampai. Kami sedang menyusun 7 unit pertama yang akan kami berikan pada ketujuh ‘Angels’, dan produksi unit sisanya sedang berlangsung pula. pembuatan battleship kelas-Merlin yang anda perintahkan pun sedang berlangsung, dengan prototipe pertama, Shirogane, diharapkan selesai dalam seminggu ini,” balas Rei, tetap pada nada tanpa-emosinya.

“Bagus. Cukup untuk hari ini, Rei. Kau boleh langsung kembali ke instalasi atau…” ujar sang tuan menutup laporan Rei.

“Saya akan tinggal sementara di sini. Pekerjaan di sana sudah ditangani oleh Dr. Ikari dan nona Langley. Saya mempercayai mereka,” potong Rei sambil membuka pintu, namun tidak keluar hingga ia mengatakan, “Selain itu… saya juga harus memastikan anda beristirahat cukup kali ini… tuanku Lord Voldemort.”

Chapter 4 – Ventures
…Seminggu setelah duel Harry dan Primula…
Kita telah sampai,” ujar Yoda sambil menunjuk ke pintu sebuah gua yang cukup besar.

“Tempat apa ini, guru Yoda…?” tanya Harry sedikit kebingungan.

“Tempat untuk mempercepat perkembanganmu… kami menamakannya Gua Pertumbuhan,” jawab Eustoma sambil sedikit meregangkan tubuh, “kami bertiga membangunnya beberapa tahun yang lalu, untuk berjaga-jaga bila suatu saat kami memerlukan tempat untuk berlatih dalam waktu yang terbatas.”

“Dalam gua ini, waktu akan melambat. Setengah tahun di dalam gua ini kira-kira sama dengan sepuluh detik di dunia luar,” jelas Forbesia menambahkan, “dan terdapat berbagai musuh, dari yang sangat lemah hingga yang nyaris tidak terkalahkan, dalam jumlah yang tak terbatas. Selain itu, juga terdapat tempat untuk memulihkan tenaga setelah bertarung. Tempat yang sangat cocok untuk meningkatkan kemampuan, bukan?”

“Ya… tempat yang sangat sempurna, memang…” balas Harry sambil memperhatikan pintu masuk gua yang tidak terlalu mengesankan itu.

“Sebelum itu, Harry… kau harus mendapatkan senjata baru terlebih dahulu. Kami semua sudah mengetahui tentang peristiwa Priori Incantatem yang terjadi pada final Triwizards, dan menurut kami sangatlah tak mungkin mengalahkan Voldemort dengan senjatamu yang sekarang,” papar Yoda sambil membuka tas peralatan yang tadi dibawanya, “berikan tongkatmu.”

Harry memberikan tongkatnya tanpa rasa ragu. Ia telah mengira hal ini akan terjadi. Sementara itu, Eustoma dan Forbesia menepi memberikan jarak dari mereka berdua.

“Hmm… baiklah…” ujar Yoda pelan, sembil menerima tongkat sihir yang diulurkan Harry, “sekarang, duduklah dan pikirkan tentang kekuatanmu. Ini akan mempermudah pekerjaanku dalam membuatkan senjata baru untukmu.”

Selama beberapa saat, tongkat Harry mengambang diantara Yoda dan dirinya. Partikel-partikel kayu satu-persatu lepas dari tongkat itu, dan pada akhirnya hanya seutas bulu panjang berwarna menyala seperti api yang tertinggal.

“Hm, tingkat pertama telah terlewati dengan baik… sekarang Harry, katakan padaku, kekuatan apakah yang kau inginkan?” tanya Yoda sambil mengambilkan sebuah kotak dari dalam tas miliknya.

“Kekuatan untuk mengalahkan kejahatan Voldemort… dan semua hal yang ada diantara aku dan dirinya,” jawab Harry pelan.

“Hmm… tujuan yang bagus… dan untunglah aku memiliki kristal yang tepat untuk hal ini,” ujar Yoda sambil mengambil sebuah kristal berbentuk batang, dengan tujuh warna yang silih berganti, “Kristal ini disebut Gundarium, yang melambangkan kekuatan tak berbatas yang dapat menandingi apa saja. Dahulu sekali, kristal ini juga dikenal sebagai perlambang kebebasan dan pemberontakan, sebelum persediaannya di bumi habis. Kristal inilah yang akan menjadi inti senjata barumu nanti, bersama dengan bulu Phoenix yang menjadi inti senjatamu sebelumnya.”

Yoda lalu meletakkan kristal itu di tanah, persis dibawah bulu phoenix yang sedang berputar di udara. Kristal itupun kemudaian melayang menuju bulu itu, dan kemudian timbul cahaya yang sangat terang saat kedua material tersebut bersatu. Beberapa detik kemudian, yang tertinggal hanyalah sepasang gagang kristal pendek yang menyala sedikit kemerahan.

“Hmm. Kau baru saja memilih bentuk senjata yang sangat kuat,” komentar Yoda sambil memandang sepasang senjata itu, “dan juga memiliki potensi yang tak berbatas… ambillah, Harry. Berikan nama pada mereka.”

“Aku…” desah Harry sambil mengambil kedua gagang pendek tersebut, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Rasa panas mengalir ke dalam dirinya begitu kulit tangannya menyentuh senjata barunya itu.

“Neu… Stern… Eisen… Ritter…” geram Harry sambil menahan luapan kekuatan yang begitu besar dari dalam dirinya.

“Hmm, nama yang baik… Harry, mulai sekarang, kedua senjata ini adalah belahan jiwamu. Mereka akan bekerja sepenuh hatinya untuk dirimu, selama kau mempercayai mereka. Mereka hanya akan bekerja untukmu, dan tak akan pernah mematuhi perintah selain dari dirimu. Harry Potter… mulai sekarang, kau adalah tuan dari Neustern dan Eisenritter…” jelas Yoda sambil tersenyum penuh arti.

“Nah, setelah Harry mendapatkan senjata baru… sekarang mari kita mulai pelajaran untuknya,” ujar Forbesia sambil menunjuk ke arah mulut gua.

…3 bulan kemudian…

“Pak Kepala Sekolah,” ujar Snape sambil memasuki ruangan kepala sekolah.

“Hmm, kehadiranmu sudah kutunggu, Snape,” ujar Dumbledore sambil memandangnya serius, “coklat?”

“Tidak, terima kasih. Para agen kita baru saja melaporkan bahwa Stockholm dan Reykjavik diserang,” ujar Snape, tetap berdiri, “kami belum sepenuhnya yakin, namun kemungkinan besar ini Voldemort.”

“Ia memilih waktu yang sangat tidak tepat…” desah Dumbledore pelan, “Bagaimana dengan Durmstrang?”

“Dihancurkan dengan sistematis, hingga balok kayu terakhir. Kekuatan yang mereka gunakan begitu mengerikan,” balas Snape ragu, “Mereka membawa pasukan berjumlah sangat besar, yang terdiri dari Death Eater, Daywalkers, werewolf, golem, naga, dan banyak hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

“Aneh sekali… mengingat posisi Durmstrang yang seharusnya berada di Laut Utara sekarang, kukira Voldemort akan menyerang London dan Hogwarts lebih dahulu melihat lokasy Gyr Dolour yang ada di Inggris…” ujar Dumbledore heran. Snape hanya bisa mengangguk membenarkan.

“Kalau begitu, panggilkan aku Ronald Weasley dan Hermione Granger. Secepatnya,” perintah sang kepala sekolah.
“Hermione, bagaimana menurutmu?” tanya Ron penasaran sambil mejalani koridor menuju kantor kepala sekolah Hogwarts. Mereka baru saja menerima perintah Dumbledore melalui Snape.

“Aku tidak tahu, Ron. Sama tidak mengertinya dengan mengapa mereka memodifikasi ingatan semua orang di Hogwarts selain kita berdua,” jawab Hermione singkat. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan semenjak serangan para dark elf ke Hogwarts beberapa bulan yang lalu.

“Baby-blue Fizzing Chocolates,” ujar Ron pelan ketika akhirnya sampai di ruangan sang kepala sekolah, “semoga pertanyaan kita terjawab di sini…”

“Kami datang menghadap, Sir,” lapor Hermione sambil berjalan ke samping Ron yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kantor tersebut. Senyum khas Albus Dumbledore menyambut mereka bersama pintu yang tertutup di belakang Hermione.

“Selamat datang,” sapa sang kepala sekolah ramah, “kuharap aku dapat menjawab semua pertanyaan kalian.”

“Sudah saatnya,” gumam Ron pelan, “dengan segala hormat, Sir… bukankah anda sudah meninggal dunia di menara Astronomi beberapa bulan yang lalu?”

“Ah, pertanyaan yang sangat mendasar, bagus sekali Ronald. Sebenarnya aku tidak mati pada saat itu, sebagaian karena kejeniusan Snape yang menemukan ramuan Anti-Avada,” jawab Dumbledore tenang, “Aku yakin kalian sudah mendengar detail pencarian Horcrux dari Harry, dimana aku meminum semacam ramuan…”

“Astaga…” desah Hermione pelan.

“…tentu saja aku harus memerintahkan Snape untuk menambahkan efek lemah dan mati-suri pada ramuannya, atau semua drama yang kami susun akan menjadi sia-sia. Kemudian, selama aku tertidur, Fawkes kukirim kepada para dark elf… kukira kalian sudah menemui mereka… untuk sementara menjadi mata, lidah, dan telingaku,” jelas Dumbledore tenang, “sementara itu, Snape dan aku pun menyusun rencana penyerbuan dark elf ke kastil ini, untuk menyamarkan peristiwa kebangkitan kembali diriku oleh orang yang tepat… Yang Kedua.”

“Itu agak mengganggu pikiranku, Sir,” sela Hermione, “Siapa sebenarnya Yang Kedua itu? Mengapa ia harus dikorbankan untuk kebangkitan anda? Apa hubungannya dengan kami?”

“Kalian berdua mengenalnya dengan baik,” balas Dumbledore, “dan dia masih hidup. Sebenarnya yang dibutuhkan untuk membangkitkan diriku adalah suara Harry… atau seseorang yang kehilangan sesuatu yang sama seperti Harry. Snape suka sekali bercanda dalam hal ini.”

“Ya ampun… jadi Yang Kedua adalah… Neville?” desis Ron tak percaya.

“Sekarang semuanya menjadi lebih jelas… kecuali satu hal. Kalau saya boleh bertanya, Sir… dimana anda menyembunyikan Harry?” tanya Hermione cepat.

“Ah… satu lagi pertanyaan mendasar. Seharusnya aku memberitahukannya pada kalian lebih cepat, hmm?” ujar Dumbledore sambil tersenyum, “Harry sekarang sedang berlatih dibawah bimbingan tiga orang sahabatku. Mereka guru terbaik yang dapat kupercaya untuk mempersiapkan Harry dalam melawan Voldemort. Aku tidak dapat memberitahukan kalian ia ada di mana, tapi yang pasti ia berada dibawah bimbingan orang-orang terbaik dalam bidangnya.”

“Ah… kalau begitu itu menjelaskan semua…” gumam Ron sambil mengangguk-angguk. Sementara itu, terdengar suara pintu dibuka dan seseorang masuk dengan tergesa.

“Voldemort zhah thalckz’hindin Beauxbatons. Nind ph’ noamuthin*,” ujar sang pelapor dalam bahasa drow.

“Udossta qu’abban?**” balas Dumbledore cepat. Ekspresinya berubah.

“Sreen’aur. Nind inbal alus Frans nin,***” balas sang pelapor.

“Bwael. Inbau jal nina wun k’lar,****” komando Dumbledore cepat. Sang pelapor pun menghilang seiring ditutupnya kembali pintu ruangan itu.

“Apa itu tadi?” ujar Ron terheran-heran, “Kukira aku mendengar Dia-yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya dan Beauxbatons…”

“Voldemort sedang menyerang Beauxbatons,” jawab Dumbledore pendek, kekhawatiran mulai sedikit terbayang di raut mukanya, “dan itulah alasan aku memanggil kalian ke sini sekarang. Voldemort sedang melancarkan usaha untuk menguasai dunia, dan kemampuan kalian akan dibutuhkan untuk mendukung Harry.”

“Kami…? Tapi bukannya Dia-Yang…” desis Ron tak percaya.

“Tak ada waktu untuk menjelaskan panjang lebar… aku yakin Voldemort sudah menghancurkan Beauxbatons selama kita bicara tadi…” balas Dumbledore sambil mengeluarkan sebentuk batu seukuran kepalan tangan dari dalam lacinya, “Hermione Granger, setelah ini kau akan berangkat ke Patagonia via portkey untuk membangunkan seorang sekutu yang kuat dengan batu ini. Sedangkan kau Ronald Weasley, kau akan kukirim ke Konohagakure untuk membangkitkan dan melatih bakat tersembunyimu. Kalian akan mendapatkan keterangan lebih lanjut di sana,” tambahnya sambil menyerahkan batu itu kepada Hermione, sebelum memberikan masing-masing sebuah ornamen oniks pada kedua pemuda yang bingung itu.

“Tapi apa yang harus…” tanya Hermione bingung.

“Biarkan kebenaran menuntun kalian,” potong Dumbledore cepat, “Godspeed!”

Tanpa sempat bertanya apa-apa lagi, kedua sahabat Harry itu langsung terbawa oleh portkey, menuju tujuan masing-masing.

“Para pemanah, assassin, dan penyihir kami sudah siap, Sir. Diperkirakan sekitar 4-5 jam lagi tentara Voldemort akan menyerbu kita,” lapor seorang dark elf wanita yang masuk ke dalam ruangan Dumbledore, sesaat setelah ia mengirimkan Ron dan Hermione ke tujuan masing-masing.

“Baik, M’ein. Mulailah mengungsikan para murid. Aku akan menyusul kalian sebentar lagi,” ujar Dumbledore tenang, sebelum M’ein pergi.

“Glamdring… Narsil… kumohon bantuan kalian sekali lagi…” desah Dumbledore sambil mengambil sebuah tongkat putih dengan sebentuk kristal berwarna perak di ujungnya, dan sebuah pedang panjang, dari pojok ruangan.

Chapter 5 – Armageddon
Malam itu, Nerine mendapat giliran jaga pertama di kemah yang mereka dirikan di depan Gua Pertumbuhan. Rasa takut dan ragu tercermin di wajah cantiknya, walaupun bukan ketakutan karena khawatir dijebak pasukan Voldemort. Nerine sendiri sudah cukup untuk menghadapi sepasukan penyerbu, karena walaupun kemampuan bertarungnya kurang dibandingkan Shia maupun Primula, kemampuan magis Nerine adalah yang terkuat diantara mereka bertiga.

“Putriku, Nerine sang Nenya, Mata yang Melihat Semuanya,” sapa sebuah suara dari dalam gua. Nerine mengenalinya sebeagai suara ayahnya.

“A… Ayah…?” balas Nerine ragu. Ayahnya terlihat tak lebih dari arwah di depannya.

“Bangunkan Shia dan Primula. Kami akan memberikan penerangan terakhir untuk kalian,” perintah Forbesia sambil tersenyum menyejukkan. Tanpa membuang waktu lagi Nerine membangunkan kedua sahabatnya itu. Tak berapa lama, muncul pula bayangan Eustoma dan Yoda di samping bayangan Forbesia.

“Kami menghadap, Yang Mulia para Raja Ketiga-Kaum,” sambut Shia sambil berlutut didepan ketiga bayangan itu.

“Dengan ini kami bertitah pada kalian, wahai, Nenya Yang Melihat Semuanya, Narya Pelindung Yang Lemah, dan Vilya Yang Memperbaharui! Dengarkanlah dengan seksama, karena ini adalah titah yang terpenting dari semua titah! Kalian akan melindungi Dia Yang Tetap Hidup, memastikan bahwa tugasnya akan terlaksana sebaik-baiknya,” suara menggelegar menyambut sembah Shia.

“Aku, Ashanael Lishianthia, Vilya Sang Api Pembaharu, menerima tugas dengan sepenuh hati ini,” balas Shia sambil memandang lurus dan tajam ke arah ketiga tetua itu.

“Aku, Primula N’evalaira, Narya Sang Perisai Keadilan, akan melindunginya dengan seluruh jiwa ini,” balas Primula sambil memandang dingin ke arah ketiga tetua.

“Aku, Nerine Charea, Nenya Sang Mata Yang Awas, akan menyertainya kemanapun hingga maut memisahkan,” balas Nerine sambil memandang ketiga tetua dengan lembut namun bersungguh-sungguh.

“Titah telah diturunkan dan diterima dengan baik… kini kami akan kembali ke Tempat yang Telah Ditakdirkan. Selamat menunaikan tugas, para Putri Berdarah-Campuran…” kata ketiga arwah, diiringi manghilangnya ketiga entitas tersebut. Para putri hanya terdiam sejenak, sebelum kemudian duduk mengelilingi api unggun yang mereka buat.

“Mereka sudah berdiam di dalam gua itu selama tiga bulan… atau artinya sekitar tujuh belas ribu tahun telah berlalu dalam gua,” ujar Nerine agak khawatir, “aku agak khawatir dengan kondisi Harry ketika keluar nanti…”

“Jangan khawatir… aku tahu ia sedang mempersiapkan sesuatu di dalam sana, mungkin ia hanya butuh waktu sedikit lagi. Kita tunggu saja hingga pagi menjelang,” balas Shia sambil sedikit tersenyum.
Menjelang terbit matahari, ketiga putri mendapati perkemahan mereka telah dikepung sekelompok makhluk mirip serangga dengan ukuran masing-masing sekitar sama dengan seekor kambing besar.

“Nerine, hewan apa ini…?” tanya Primula sambil mempersiapkan diri dengan lightsaber miliknya.

“Zergling… tapi seharusnya tidak ada Zergling di dimensi ini… atau paling tidak di bumi…” balas Nerine cepat, sambil menyiapkan beberapa mantra destruktif untuk dilemparkan pada gerombolan besar zergling yang mengepung mereka dari berbagai sisi itu.

“Nampaknya posisi kita sudah diketahui Voldemort! Nerine, Primula, kita tak boleh membiarkan binatang ini memasuki gua!” komando Shia sambil mulai menghantam makhluk-makhluk aneh tersebut dengan kepalannya. Kemampuan beladiri tangan kosong memang merupakan keahlian Shia yang paling menonjol.

Dan semuanya pun dimulai.

Bagai tarian pengundang maut, Primula menebas dan menusuk ke segala arah sambil melompat dan berpindah diantara kerumunan Zergling yang mengepung mereka. Dengan kemampuan berpedang yang tiada duanya, lightsaber putih-perak milik Primula bak berubah wujud menjadi kabut pengundang maut yang melingkupi tubuhnya.

Sementara itu, Shia merangsek kawanan Zergling bak banteng terluka. Satu demi satu Zergling yang tak beruntung menemui ajal di kepalan tangan Shia, yang memiliki kekuatan untuk menggeser gunung. Walau sempat terpukul di beberapa bagian tubuh, Shia tidak terluka ataupun merasakan rasa sakit, karena ia telah ditelan oleh nafsu bertempur yang tak bertanding.

Walaupun bertempur dari garis belakang, Nerine tidak kurang mengerikan dari kedua putri lainnya. Sambil menutup pintu gua dengan perisai berwarna putih, Nerine melancarkan serangan dengan mantra-mantra sekelas Cannon Buster, Waterspout, dan Hell Crush ke arah garis belakang para Zergling. Kekuatan magis nyaris tak berbatas yang dimiliki Nerine dapat membuat mereka bertahan lebih lama melawan gerombolan Zergling yang seolah tiada habisnya ini.
Seorang pemuda berjalan pelan menuju pintu gua, tidak terburu-buru. Tubuhnya terbalut seperangkat zirah ringan berwarna perak dan mantel kulit naga. Sorot matanya memancarkan ketenangan dan pencerahan jiwa. Sebentar kemudian, ia mendapati Nerine yang sedang mempertahankan barrier miliknya mati-matian.

“Nerine…” panggil sang pemuda lembut sambil menepuk bahu Nerine.

“Ha-… Harry?” balas Nerine kaget. Konsentrasinya nyaris hilang.

“Aku telah kembali dari perjalanan panjangku… Izinkan aku membantu kalian,” ujar Harry sambil tersenyum, “Neustern, Eisenritter, kupercayakan pada kalian berdua…”
“VAAPAD, GERAKAN KE EMPAT! SERIBU BINTANG DI LANGIT MALAM!”
Serentak dengan teriakan Harry, berpuluh-puluh bayangan dirinya dengan lightsaber kembar berwarna merah menyala menyerbu pertempuran.

“Wha-…” desis Primula tak percaya ketika bayangan-bayangan Harry merangsek maju, membabat Zergling yang luput dari amuk tarian pedangnya.

“Saatnya kita pergi dari sini, Nerine, Shia, Primula! Bayangan-bayanganku akan menahan mereka sementara kita kabur! Gua Pertumbuhan telah runtuh, jadi tinggalkan saja!” seru Harry sambil menunjuk ke arah langit, bak memberikan aba-aba untuk terbang, “Hitungan ketiga! TIGA!”

Dengan komando terakhir, mereka berempat naik ke langit, terbang meninggalkan gerombolan besar Zergling yang masih mengepung Gua Pertumbuhan.
Tampaknya neraka telah diturunkan ke bumi, atau tepatnya ke Hogwarts. Kastil tua itu sedang menerima gempuran hebat dari burung-burung logam yang memuntahkan sinar-sinar menyilaukan dari ujung senjata yang mereka bawa. Kalau bukan karena kekuatan perlidungan magis dari para leluhur yang membangunnya, kastil tua itu pasti sudah rontok pada salvo pertama. Walaupun para dark elf sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghalau infantri yang ikut menyerbu, usaha mereka seperti sia-sia di depan pasukan Mobile Suit yang merangsek maju.

“Sir! Garis pertahanan keempat telah dihancurkan oleh pasukan golem musuh! Akan sampai dalam 5 menit!” teriak M’ein sambil melepas panah untuk melindungi sang kepala sekolah yang dikepung sekelompok Uruk-hai.

“Larilah! Katakan pada para penyihir untuk membuka portal dimensi ke Gurenjodo!” seru Dumbledore, Glamdring dan Narsil menari-nari di tangannya menebasi Uruk-hai.

“Maksud anda, Sir…” balas M’ein sambil menebas putus kepala seekor Uruk-hai yang menghalanginya.

“Kita tak mungkin menang di sini… lebih baik kabur dan tetap hidup, daripada mati walaupun terhormat!” ujar Dumbledore sambil tersenyum, “Akan kuberi kau waktu untuk menyiarkan perintahku pada Drizzt, Zaknafein, Jalynfein, dan Sel’varess! Sekarang cepatlah!”
Keempat orang yang baru saja terselamatkan dari kepungan Zergling itu pun mendarat di sebuah lerengan bukit, aman dari kejaran musuh untuk sementara.

“Kami telah menerima titah dari ayah-ayah kami, Harry. Sekarang kami akan mengikutimu untuk memastikan bahwa Voldemort dapat dilenyapkan selamanya,” ujar Primula datar sambil menyeka keringat dari dahinya, “Kulihat kemampuanmu sudah sangat jauh meningkat dari waktu aku menghajarmu dulu.”

“Haha, hampir dua puluh ribu tahun berlatih dan belajar akan memberikan kekuatan yang tak akan terbayangkan,” kata Harry sambil tersenyum, “Aku sudah melihat segala macam peradaban dan intrik di dalam sana.”

“Yah, bagaimanapun… Kita membutuhkan tujuan dalam perjalanan ini, Harry. Kemana kita akan pergi sekarang?” tanya Shia sambil sedikit menyisir rambut panjangnya.

“Kukira aku harus mengunjungi keluarga angkatku dahulu, teman-teman. Aku ingin memaafkan mereka dahulu sebelum menempuh perjalanan berat ini,” ujar Harry sambil memandang ke kejauhan.

“Pilihan yang bijaksana. Ke Privet Drive, kalau begitu,” balas Nerine sambil tersenyum.
“M’ein! Cepat masuk ke dalam portal!” teriak seorang pemuda dark elf, “Masih ada saudara kita di atas sana, aku akan menahan portalnya untuk mereka!”

“Tapi… Jalynfein…” balas M’ein ragu.

“Sudahlah, cepat!” keta-kata Jalynfein mulai terdengar memaksa, “Apa gunanya kalau Sang Ulfaerz’un’arr* meninggal di sini? Cepat!”

“Baiklah… Xal Lil Ultrine qyorl d’jal**,” seru M’ein sambil memasuki portal menuju tempat tinggal Klan Mibu itu. Jalynfein hanya tersenyum, sementara suara ribut mulai terdengar dari luar pintu.

“Xal Lil Ultrine qyorl d’jal mziln, usstan abbilen,***” desah Jalynfein sambil menutup portal dan menghadapi pintu yang nyaris terdobrak oleh para Uruk-hai itu, “Hogwarts… nau, SSUSSUN ULTRIN!^*”
“Harry, ini…” desis Nerine pelan.

Privet Drive tidak pernah akan sama lagi.

“Nampaknya mereka sudah mulai bergerak secara massal…” kata Primula datar, “Bukan tak mungkin kitalah makhluk hidup terakhir yang berdiri di sekitar sini…”

Didepan mereka hanya terhampar deretan rumah-rumah yang terbakar, rumput dan pohon-pohon yang menguning daunnya, dan tanah yang merekah di sana-sini. Bau mayat dan darah menyesakkan udara. Privet Drive, tempat Harry Potter pernah menghabiskan sebagian hidupnya, telah dimusnahkan dari muka bumi.

“Ayo, kita bergegas. Kuharap tak terjadi apa-apa,” ujar Harry sambil tetap berusaha tersenyum.

“Paman! Bibi! Dudley!” teriak Harry begitu ia menginjakkan kaki di pelataran rumah Dursley.
Sebaiknya kita berdua berpencar, Primula. Semoga tidak ada penyerang yang tersisa,” ujar Shia sambil menepuk bahu Nerine, “Sisanya kuserahkan padamu, Neri.”

Harry dan Nerine pun memasuki rumah. Dan apa yang mereka dapati menghancurkan segala harapan Harry. Di ruang tamu, mereka mendapati mayat dua orang berpakaian hitam-hitam, persis seperti pakaian Kurz Weber yang ditemuinya pada malam pertama Harry menempuh perjalanan ini. Tubuh mereka bak dirobek-robek oleh sesuatu yang luar biasa kuat, namun jelas mereka berusaha melawan.

“Harry…” desah Nerine pelan sambil memegang pundak Harry, berusaha membagi kekuatan dengannya. Harry masih berusaha tersenyum.

“Mari, kita lanjutkan. Aku yakin mereka sekarang sedang bersembunyi di basement,” ujar Harry pelan. Senyumnya masih tersungging, namun senyum itu tidak lagi meyakinkan.

Mereka pun melanjutkan pencarian mereka, hanya untuk disambut pemandangan yang lebih mengerikan. Dua mayat, salah satunya dikenali Harry sebegai Dudley Dursley, ‘dipaku’ dengan potongan kayu meja makan ke langit-langit ruang makan. Nerine menitikkan air mata.

“Kejam…” bisik Nerine di sela isak pelannya.

Sementara itu, Harry meneruskan pencariannya ke kamar tidur utama. Ia disambut dengan mayat suami-istri Dursley, saling berpelukan di saat terakhir mereka. Tangan Vernon Dursley, yang tampaknya meninggal dunia setelah istrinya, tampak menggenggam secarik kertas yang berlumuran darah.
Quote
HARRY, KAMI TAHU KAU MUNGKIN TAK AKAN MAU MEMAAFKAN KAMI, TAPI IZINKAN KAMI TETAP MINTA MAAF. KAMI MUNGKIN SEPERTI MEMBENCIMU, TAPI PERCAYAILAH BAHWA KAMI MENCINTAIMU.
DURSLEYS
Nerine memasuki kamar tidur utama, dan mendapati Harry terpekur menekuni secarik kertas. Pemandangan yang begitu mengerikan terpampang di depannya.

“Nerine… bolehkah aku meminjam sesuatu darimu…?” bisik Harry pelan. Nerine hanya mengangguk.

Penyihir terkuat di dunia itu pun menangis dalam pelukan Nerine.
Chapter 6 – Hell
Tiba-tiba jendela kamar tidur utama itu pecah diterjang seekor Zergling yang terlempar masuk. Zergling itu menggelepar sebentar lalu mati dekat Harry dan Nerine. Dari lubang jendela baru itu, Shia melongok masuk.

“Zergling! Sepertinya mereka mulai kembali untuk menyantap makana-… oh, er… maaf mengganggu,” ujar Shia cepat sambil kembali menyibukkan diri menahan sekelompok Zergling agar tetap berada di luar.

“Harry, tidak apa-apa bila kau…” kata Nerine lembut.

“Tidak, Nerine. Aku sudah cukup bersedih… sekarang sudah tiba saatnya untuk kembali bertarung,” balas Harry sambil menyeka air matanya. Tekadnya sudah kembali. Neustern dan Eisenritter berpendar lembut di tangan Harry ketika dihunuskan, sebelum mengeluarkan pancaran energi berwarna merah terang yang berfungsi sebagai mata pisau mereka.

“Kemana berikutnya, Harry?” tanya Nerine sambil tersenyum, senang melihat api tekad kembali ke dalam sinar mata Harry.

“Kita bersihkan dulu Privet Drive dari Zergling, agar kita bisa menguburkan korban tewas dengan layak,” balas Harry yakin sambil keluar melalui lubang jendela baru itu.

…Jepang, waktu yang sama…
M’ein memasuki sebuah ruangan tahta yang luas, dengan ditemani dua orang pengawal wanita berseragam miko*. Di tengah ruangan itu, Dumbledore dan seorang wanita berpakaian putih sedang mengelilingi sebuah meja dengan peta dunia sambil berdiskusi.

“Hormat saya, Sir Dumbledore,” sapa M’ein hormat.

“Ah, kau sudah kutunggu dari tadi, M’ein. Ada kabar dari Jalynfein?” ujar Dumbledore sambil memandang hangat M’ein.

“Tidak, Sir. Kami tidak bisa menghubunginya lewat Soul Link sejak lima menit setelah portal tertutup… dan kami takut kemungkinan terburuk telah menimpanya…” jawab M’ein dengan wajah tertunduk. Air matanya mulai menggenang.

“Jiwanya akan tenang di alamnya, karena ia telah berkorban dengan berani demi apa yang ia yakini,” kata sang wanita berbaju putih sambil tersenyum teduh, “beristirahatlah dahulu di kamar-kamar yang telah kami sediakan, M’ein Gelrand. Curahkanlah kesedihan yang menelanmu untuk sekarang.”

“Terima kasih, Paduka Ratu Merah… namun saya tidak sed-…” balas M’ein terbata, sebelum dihentikan dengan selarik desis lembut dari sang Raja Merah.

“Aku mengerti perasaanmu, M’ein sahabatku. Jalynfein mempunyai sebelah hatimu, seperti dirimu juga mempunyai sebelah hatinya. Perasaan sedih yang timbul dalam dirimu adalah sesuatu yang tidak aneh, tidak pula itu merupakan sebuah kelemahan. Saya, Neya, tolong tunjukkan jalan pada nona M’ein ini,” ujar sang Ratu Merah sambil tersenyum dan memberikan isyarat pada kedua pengawal yang membawa M’ein itu.
“Memang, perang tak pernah memandang siapa yang mereka bunuh… kasihan dia. Jalynfein adalah temannya sejak kecil,” ujar Dumbledore sambil menghela nafas ketika pintu ruang tahta itu ditutup.

“Yah… begitulah. Mari kita kembali mendiskusikan rencana kita, sahabatku…” kata sang Ratu Merah sambil tersenyum kepada Dumbledore.

“Hahaha, kau ini selalu memanggilku dengan panggilan itu, Irui. Kita sebagai putra-putri Naseim Ganeden tidaklah seharusnya saling memposisikan diri sejauh itu,” balas Dumbledore sambil tersenyum.

“Baiklah, Alvus kakakku yang baik~” kata Irui sambil tersenyum lucu, “tapi hanya saat kita berdua saja, ya? Para penasihatku yang cerewet itu sering menegurku karena ‘tidak bersikap sebagaimana mestinya’.”

“Nah, untuk pelaksanaan rencana Operasi Harpe kita…. aku masih berpendapat bahwa kita kekurangan orang. Bila kita mengalihkan anggota Mibu Ichizoku yang sedang mengamankan Jepang, Macchu Picchu, Mekkah, dan Jerusalem sekarang, maka semua tempat itu akan mudah sekali terebut,” ujar Dumbledore sambil menunjuk tiga tempat di peta bumi itu, “Dan invasi Voldemort sudah mencapai Alexandria. Giza sudah jatuh. Kita tidak boleh membagi kekuatan lebih dari ini.”

“Aku tahu, kakak… oleh karena itulah aku memilih bertahan di Jepang serta mempertahankan tempat-tempat sakral itu sambil mempersiapkan untuk kemungkinan terburuk… yaitu dengan terpaksa menjalankan Rencana Plantagenet. Tetapi, dengan datangnya dirimu ke sini, aku yakin harapan kita berbayar sudah. Pasti yang lain akan segera menyusulmu, Alvus,” ujar Irui sambil mengusap bahu kakaknya itu.

“Ya… aku tahu… sekarang tinggal menunggu ketujuh pemuda yang telah dipilih oleh langit untuk bergabung di sini dan memulai perjalanannya,” kata Dumbledore sambil menghela nafas.

Tiba-tiba seorang pengawal dengan tergopoh-gopoh memasuki ruang tahta itu.

“Tuanku! Ada seekor nag-“

Belum selesai sang pengawal bicara, tiba-tiba sebuah bayangan besar menghambur masuk untuk kemudian terbang menanjak menuju langit-langit ruang tahta. Bayangan itu berputar turun, sebelum mendarat beberapa kaki di depan pengawal yang terduduk ketakutan itu. Naga dengan kulit berwarna perak itu kemudian menunduk hormat ke arah Irui, menampakkan pengendaranya.

“Hermione Granger, bersama Arcueid Hon’eist putra Artemis putra Gwaihir putra Bahamut, datang menghadap Yang Dipertuan Ratu Merah Sendai, Irui Ashenheim Ganeden!” seru Hermione lantang sambil membungkukkan badan sebisanya.

“Kuterima hormatmu, Arc dan Hermione. Kebetulan pula kepala sekolahmu telah ada di sini,” ujar Irui sambil tersenyum. Nada akrabnya menyiratkan bahwa ia telah mengenal Arcueid sejak lama.

“Kulihat kau berhasil membangunkan Arc tepat waktu, Hermione,” kata Dumbledore kepada Hermione yang sedang menuruni Arc. Arc hanya memberikan kerling mata pada Dumbledore sebagai balasan.

“Dan saya, Ronald Weasley, datang menghadap kepada Yang Dipertuan Ratu Merah Sendai, Irui Ashenheim Ganeden. Teriring pula salam sejahtera dari kepala desa Konohagakure kepada anda, Paduka Ratu,” tiba-tiba sebuah suara menyela balasan Hermione kepada Dumbledore. Sejurus kemudian, bak angin lalu, tampak seorang ninja tanpa tutup kepala berpakaian hitam-hitam berlutut hormat di samping tubuh Arc. Hanya warna kulit dan rambutnyalah yang memberitahukan kepada semua orang di situ bahwa ia adalah benar-benar Ron Weasley.
… Privet Drive, malam itu…
Sebuah api unggun raksasa melahap rumah-rumah yang ada di sekitar tempat residensial itu. Empat orang melihatnya dari angkasa, beragam perasaan membanjiri hati mereka. Pada akhirnya, mereka harus membakar Privet Drive untuk membersihkan telur-telur Zergling yang tersisa dalam tanah dan bangunan.

“Jadi, ke mana kita sekarang?” tanya Shia sambil melipat tangannya dan memandang Harry. Wajahnya diterangi dari bawah oleh cahaya api yang masih terbakar hebat.

“Kukira cukup bijak menyerang Gyr Dolour sekarang…” saran Primula sambil menarik kekuatannya dari Viento de Plata, senjata magis miliknya, “kukira base itu baru saja ‘dikosongkan’ untuk penyerbuan besar-besaran ini.”

“Primula ada benarnya, Harry. Kukira kita berempat cukup untuk bisa menembus dan menghancurkan markas itu, apalagi bila dibantu oleh summon yang bisa kukerahkan,” ujar Nerine, menguatkan anjuran Primula, “Terlebih lagi, kau bisa membantu kami dengan Vaapad.”

“Tidak. Aku ingin melihat keadaan Hogsmeade dan Hogwarts dahulu. Bila kalian bertiga ingin menyerbu Gyr Dolour sekarang, kukira tidak akan terlalu sulit dengan kemampuan kalian,” balas Harry. Mimik mukanya menyiratkan keseriusan.
Hening sesaat, ditingkahi suara kemeretak api yang masih mengamuk dibawah mereka. Sebuah ledakan terdengar di kejauhan, mungkin dari sebuah mobil terbakar.

“Baiklah, kita ke Hogsmeade besok pagi,” ujar Nerine menyudahi pergulatan batin diantara mereka berempat.

“Tapi… bukankah kalian bertiga tadi sepakat ingin menyerbu Gyr Dolour?” tanya Harry ragu. Ia merasakan hal yang mungkin tidak beres.

“Karena aku telah melihat dan memikirkannya, Harry. Sekarang belum waktunya,” jawab Nerine, lembut tetapi mantap.

“Bila Nenya telah melihat, tiada kekhawatiran akan kebenarannya,” tandas Primula.
Kastil besar itu ternyata benar-benar telah penuh dengan berbagai makhluk yang bahkan Harry pun tak mengenal namanya. Sudah bisa ditebak, pertempuran kembali menyambut mereka. Sepertinya Ragnarok, Pertempuran Abadi, telah dimulai di bumi. Hati Harry kembali hancur melihat sekolah yang telah menjaganya sejak ia genap berumur sebelas tahun kini porak-poranda dihancurkan Voldemort.

Tapi, keputusasaan Harry tertunda.
Till today, we’ve fought with all our might and brains
For a day where we will fight no more
Harry, Primula, dan Shia tersentak. Suara yang begitu merdu mengalun mengusik telinga mereka, ditingkahi suara perang dan denting senjata yang beradu. Lagu itu tidak mereka kenal, namun dengan lembut berhasil menyentuh hati mereka.

Namun pertempuran terus berjalan. Para monster ciptaan Voldemort terus merangsek maju, melihat keempat lawannya bak terbius oleh suara yang tak mereka kenal.

Harry, Primula, dan Shia saling berpandangan selama sedetik lalu saling tersenyum, sebelum kemudian meneruskan tarian maut mereka.

To this day, our earth had cried for all her scars
and we here
we tried to hurt her more
Nerine mengonsentrasikan seluruh tenaga sihir yang tak terpakai untuk mempertahankan barrier pelindung miliknya ke pita suaranya. Ia mengubah kekuatan murni itu menjadi suara indah yang memenuhi setiap sudut kastil tua yang kini telah kehabisan tenaga magisnya itu.

Ia sedang mencoba menciptakan keajaiban, yang belum pernah diciptakan oleh penyihir sehebat apapun sebelumnya.

From today
Let us throw all those arms away

“SEKIHA~ TENKYAKEN!**”
For those tears
That had been cried and shed
“VAAPAD, GERAKAN KEEMPAT! SERIBU BINTANG DI LANGIT MALAM!”
And from today
Let’s pray for all who’ve passed away
“Vaapad, gerakan kedua… Taufan Seribu Pedang…”
And then pray
This war will be the last.

Pasukan dark elf yang tersisa di kastil itu, setelah semalaman digempur berbagai monster yang bak dicurahkan hujan di atas mereka, merasakan ada yang berubah pagi itu. Suara merdu yang terdengar sayup di telinga mereka mengembalikan keberanian dan keteguhan hati mereka yang sempat porak-poranda ketika portal terakhir milik Jalyfein N’eshamah tertutup.
Mereka menyaksikan dinding kastil berpendar, rumput hijau tumbuh dari celah-celah puing, dan darah yang tercecer dari pertempuran bak menguap begitu saja.
Mereka tak tahu apa yang terjadi, namun mereka tahu itu adalah keajaiban.
For the might, the nations clashed in all those fights
Yet the last still had not learnt the past
“M’ein!” seru Drizzt tidak percaya ketika setengah-mendobrak pintu kamar M’ein yang tertutup, “Kau tak akan percaya ini. Soul Link dengan sekitar empat puluh orang Oloth Velven^ yang tertinggal di kastil Hogwarts telah terbuka kembali!”
“Apa…?” desah M’ein tak percaya. Ucapan Drizzt datang tepat ketika ia baru saja melepas harapan untuk Jalynfein dan pasukan yang tertinggal di Hogwarts.
“Aku tak berdusta… sekarang fenomena ini sedang dimonitor oleh Sir Dumbledore dan Paduka Ratu dari Ruang Ramalan. Kita pun dipanggil untuk menyaksikannya! Cepatlah!” balas Drizzt cepat.
Tanpa diketahui oleh Nerine, keajaiban yang ia sedang coba ciptakan telah menyentuh jiwa orang yang jauh darinya sekalipun.
For those might the wives of soldiers grieve their nights
For those might
We torched, and burnt the halls
Jalynfein tersadar oleh nyanyian lembut yang mengusik telinganya itu.
Bukankah aku telah mati?
Dirabanya jejak bekas tebasan Uruk-hai yang ada di dadanya. Bekas itu tidak hilang, namun perdarahannya telah berhenti. Iapun merasakan tubuhnya memperbaiki diri.
Surgakah ini? Ataukah aku sedang mendengar nyanyian para Valkyrie yang turun dari Valhalla untuk menjemputku?
Tenaga Jalynfein terus terisi. Dengan kekuatan yang dimilikinya ia membuka pintu ruangan tempat ia bertahan semalam. Didapatinya seorang gadis bertelinga runcing diselimuti cahaya keemasan, bernyanyi ditengah kepungan beberapa Zergling yang tampak siap merobeknya hidup-hidup.

Tak ada waktu beristirahat untuk Jalynfein, namun hati yang telah menemukan jawaban tidak memerlukan istirahat. Dengan sebilah pedang di tangan, ia berlari ke arah sang gadis, berteriak lantang.
“SSUSSUUUUUN… ULTRIIIIIIINNN***!”
From today
Let all of them unite again
To receive
What had lost in the war
And from today
We’ll cry our happy tears again
For those men
Those souls, and no more wars…
——————————
* miko: pendeta wanita a la Jepang. kostumnya khas (gugel aja gambarnya, hehehe ^^).
** ini nama jurus, saya juga asal comot dari anime ^^; bentuk fisiknya adalah bola api (mirip Kamehameha-nya Son Goku).
*** Ssussun ultrin : cahaya di atas segalanya
^ Oloth Velven : Pisau Kegelapan

puisinya sebenernya lagu jaman jebot bikinan aye, kalo keliatannya butut yah mugkin emang buthut ^^

Chapter 7 – Respite
Pertempuran untuk merebut kembali Hogwarts itu akhirnya selesai. Entah berapa banyak korban jatuh di pihak para monster, namun dengan bantuan keajaiban Nerine, tidak ada korban jatuh dari pihak Harry dan para dark elf.

“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Harry sambil menyapukan pandangan pada kelompok dark elf yang berkumpul di ruangan yang dulunya Aula Besar.

“Lumayan. Dari 37 orang yang tersisa, yang terluka hanya 7 orang. Atas nama saudara-saudaraku, izinkan aku mengucapkan terima kasih untuk bantuan kalian,” jawab Jalynfein sambil menawarkan jabat tangan.

“Jangan dipikirkan, teman. Sudah kewajiban kami menolong sesama yang membutuhkan,” balas Harry sambil menjabat tangan Jalynfein, “Namaku Harry Potter. Boleh aku tahu mengapa kalian ada di kastil ini?”

“Namaku Jalynfein N’eshamah. Kami adalah sisa pasukan dark elf yang bertugas untuk menahan pasukan Voldemort sehingga penghuni Hogwarts lainnya bisa diungsikan. Kami terlambat ikut mengungsi sehingga terpaksa bertahan di sini,” ujar Jalynfein sambil memberi isyarat kepada para dark elf.

“Tunggu… tadi kaubilang… mengungsi?” tanya Shia penasaran, “Kemana?”

“Gurenjodo, suatu tempat di kaki gunung Fuji di Jepang,” jawab Jalynfein sambil memandang ke suatu arah, “aku bertugas untuk menjaga portal ke sana saat itu.”

“Setidaknya mereka semua sudah aman, Harry,” ujar Nerine sambil menepuk pundak Harry, “Kita juga harus menyusul mereka untuk menyatukan kekuatan.”

“Aku bisa mencoba membukakan lagi portal dimensi ke sana, tapi aku butuh semua bantuan yang ada,” balas Jalynfein, yang disambut anggukan Nerine.

“Kalau begitu, yang ingin ikut berjaga dengan Shia dan aku, ikut kami. Yang terluka tinggal saja di sini, bersama Primula. Primula, berjagalah di sini bersama beberapa orang,” komando Harry sambil menuju ke luar diikuti Shia dan beberapa belas orang pasukan dark elf.
Empat jam kemudian…
Harry memasuki ruangan aula utama itu dengan tenang. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sedang berpikir cukup keras. Ditengah ruangan, Nerine tampak sedang menyembuhkan para dark elf yang terluka, sementara Primula beristirahat di atas salah satu meja. Jalynfein tampak mondar-mandir di salah satu pojok ruangan.

“Bagaimana, Jalynfein? Bisakah portal ke Gurenjodo dibuka lagi?” tanya Harry cepat. Nerine menghampiri mereka.

“Itulah masalahnya, abbil*. Nampaknya para Onmyouji** Jepang sudah mengaktifkan kekkai mereka,” ujar Jalynfein muram, “Sekarang Jepang tak tertembus dari luar dengan metode teleportasi. Kalian harus melalui jalan fisik, Dan kukira jalan fisik pun sudah dijaga ketat oleh JSDF.”

“Mereka harus melindungi tanah airnya dari musuh, Harry. Tidak bijaksana menyalahkan mereka,” tambah Nerine lembut, membaca pergolakan di hati Harry.

“Kau benar, Nerine… namun perjalanan biasa dari Inggris ke Jepang, melintasi Eropa dan Siberia, apalagi dalam keadaan perang seperti ini, tentu sangatlah panjang dan berbahaya. Aku harus memikirkan keselamatan kita semua,” balas Harry sambil berpikir, “Jalynfein, bisakah kau membuka portal ke suatu tempat aman di Asia? Dengan begitu, setidaknya kita bisa mendahului Voldemort beberapa langkah.”

“Hm… seharusnya bisa. Aku mempunyai sebuah tempat yang kukira cocok untuk lokasi mendarat kalian… kota Vladivostok di Rusia. Cina atau Korea mungkin lebih dekat, namun kukira Voldemort sudah bersiaga di sana karena kedua negara itu cukup strategis. Tentu banyak agen Death Eater yang disiapkan di sana,” jawab Jalynfein sambil berpikir.

“Cukup dekat, namun kita masih harus menempuh perjalanan beberapa ratus kilometer ke selatan untuk mencapai wilayah Jepang. Seharusnya tidak terlalu sulit,” kata Nerine.

Tiba-tiba Shia mendobrak masuk dengan terburu-buru.

“Uruk-hai… mereka datang lagi,” seru Shia sambil terengah, “Kira-kira satu-dua kilometer selatan kastil. Mungkin akan datang dalam satu atau dua jam.”

“Selalu di saat yang tidak tepat,” komentar Primula sambil bangun dan menarik gagang Viento de Plata dari sabuk pakaiannya, siap bertempur kembali.

“Jangan, Primula. Seharusnya satu atau dua jam cukup bagi Jalynfein untuk membukakan portal ke Vladivostok. Kumpulkan saja dark elf yang sedang berpatroli di luar,” kumando Nerine sambil memandang Jalynfein, “Aku akan membantu Jalynfein membukakan portal itu. Kita bertahan di sini.”

Beberapa menit berlalu selagi Nerine dan Jalynfein mempersiapkan mantra untuk membuka portal. Tiba-tiba lantai bergetar.

“Apa ini?” seru Harry khawatir.

“Hanya ada satu kemungkinan. Senjata serbu berat^,” desis Shia. Wajahnya menampakkan selintas ketakutan.

“Portal terbuka!” Seru Jalynfein sambil berusaha menahan portal dimensi itu agar tetap terbuka, “Nerine, Harry, Shia, Primula, Nalfein, yang lainnya! Cepat masuk!”

“Tapi kau…” balas Nerine khawatir. Sebuah guncangan terjadi lagi.

“Bagiku, tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi selain berkorban untuk hal yang benar,” ujar Jalynfein sambil tersenyum, “Nalfein, belbau Kerensky sarn. Uk orn zhaun.^*”

Nalfein hanya mengangguk, sebelum ia memasuki portal itu disusul Primula, Shia, Harry, dan para dark elf yang tersisa.

“Kami semua berhutang nyawa padamu, wahai Jalynfein N’eshamah,” bisik Nerine lembut, sambil menyelipkan sepotong kecil kayu ke sela armor Jalynfein sebelum memasuki portal, “Godspeed…”
Mereka semua mendarat di depan sebuah markas militer yang dijaga cukup ketat. Dengan segera Nalfein mendekati penjaga yang ada dan berbicara beberapa hal dalam bahasa Rusia. Beberapa menit kemudian, Nalfein kembali kepada rombongan.

“Kita diperbolehkan masuk. Admiral Kerensky ada di hangar 3, dan dia sudah menunggu kita begitu dihubungi tadi. Mari Chosen One, kita harus bergegas,” ujar Nalfein cepat.

“Baik,” jawab Harry pendek.

Setelah berjalan beberapa menit, mereka pun tiba di sebuah hangar besar yang tampak berbatasan dengan laut. Seorang setengah umur ditemani beberapa pengawal dan dua orang dark elf tampak telah menunggu mereka di depan hangar tersebut.

“Hormat saya, Admiral Kerensky. Saya membawa kabar dari Hogwarts,” lapor Nalfein sambil menghormat.
“Nanti akan kuterima laporanmu secara tertulis, Nalfein L’Fardia. Mari, Musicanova telah disiapkan. Sebaiknya kita juga cepat ikut mengungsi,” balas Kerensky sambil tersenyum, “Nalfein, bawa teman-temanmu ke bagian residensial. Para Chosen Ones, silahkan ikuti saya.”
Kerensky, Harry, dan para Putri pun akhirnya sampai di sebuah ruang pertemuan. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan.

“Izinkan saya memperkenalkan diri saya secara formal terlebih dahulu. Saya adalah Admiral Aleksandr Kerensky, kepala Armada Pasifik Angkatan Laut Republik Federasi Rusia. Seperti yang telah anda lihat, markas ini adalah markas besar Armada pasifik yang terletak di Vladivostok. Kita sekarang sedang berada dalam Battleship terbaru di Armada Pasifik, Musicanova,” jelas Kerensky sambil menyalakan monitor di depan ruangan dengan sebuah remote control, “Kapal ini, bersama Support Ship Crvena Zvezda, akan bergabung dengan kekuatan JSDF dan Mibu Ichizoku yang terpusat di Jepang, seperti yang telah diinstruksikan oleh Paduka Ratu Merah Sendai.”

“Tunggu sebentar, Admiral… bila anda bekerja kepada pemerintah Rusia, mengapa anda menggabungkan diri dengan kekuatan militer Jepang?” tanya Shia heran.

“Hmm, pertanyaan bagus. Pertama, Jepang adalah satu dari sedikit negara yang masih bertahan dari gempuran Voldemort dan VLF miliknya. Moskwa dan Washington baru saja terambil-alih oleh kekuatan mereka, jadi rantai komando militer sedang berada dalam keadaan yang sangat kacau. Saya mengambil inisiatif untuk bergabung dengan kekuatan militer terkuat. Kedua, kapal ini dibuat dengan teknologi dan pendanaan Mibu Ichizoku, khusus untuk mengantisipasi konflik berskala dunia seperti ini. Ketiga, aku adalah anggota Mibu Ichizoku,” jelas Kerensky, skematik dan spesifikasi Musicanova terpampang di layar.

“Tunggu sebentar, Admiral… tapi bukankah…” tanya Harry heran.

“Anda cukup perseptif, Harry Potter. Kapal ini dibangun berdasarkan desain dan teknologi baru yang disuplai oleh Mibu Ichizoku. Kapal ini dapat bertempur dalam air, di udara, atau di luar angkasa dengan sama baiknya,” jelas Kerensky sambil tersenyum, “Desainer kepala untuk proyek ini adalah Theresa Testarossa, salah satu ilmuwan Mibu Ichizoku yang paling maju dalam bidangnya.”

“Ah, tentu saja,” ujar Primula pendek, “itu menjelaskan mengapa beberapa hal dalam disain kapal ini terasa familiar.”

“Kau mengenalnya, Primula?” tanya Harry penasaran.

“Ya. Dia murid paman Yoda yang seangkatan diatas kami semua. Kejeniusannya di bidang Extra-Terrestrial Technology jauh melebihi kecakapannya dengan magic. Ketika ia lulus, kudengar ia pergi ke Jepang untuk suatu misi tertentu, namun detailnya tidak pernah dijelaskan,” jelas Primula sambil bersandar di sandaran tempat duduknya.

“Sekarang, akan kujelaskan lebih lanjut rencana kami. Kapal ini akan menuju pulau Sakhalin, untuk kemudian menyusuri pantai baratnya menuju Hokkaido. Dengan kecepatan kita sekarang, diharapkan kita akan sampai di Hokkaido dalam 8 sampai 9 jam. Selama itu, kita bisa beristirahat,” ujar Kerensky sambil memunculkan peta di monitor.

“Hmm, rencana yang cukup baik, Admiral. Namun kusarankan kita tidak membiarkan pertahanan kita terbuka, karena musuh bisa muncul kapan saja,” balas Nerine sambil tersenyum.

“Itu pasti, nona. Saat ini kita terus maju dalam status siaga kuning. Bila terjadi keadaan darurat, Musicanova dan Crvena Zvezda juga membawa mech untuk membela diri,” kata sang Admiral tenang, “Saat ini, biarlah kita beristirahat seperlunya agar kita siap menghadapi bahaya yang datang.”
…Tujuh jam kemudian, anjungan komando Musicanova…
Admiral, kami menangkap sinyal tak-teridentifikasi dari arah selat Sakhalin! Empat tanda-panas! Kemungkinan kapal selam!” seru seorang kru bridge sambil mengetikkan beberapa perintah pada konsolnya, “Peluncuran Mobile Suit sangat mungkin!”

“Hmh, akhirnya mereka menunjukkan taringnya. Siaga merah! Siapkan peluncuran Mech! Beritahukan Crvena Zvezda untuk bersiaga pula!” komando Kerensky lantang.

3 comments on “Harry Potter and The Half-Blood Princesses (Baca dulu baru komentar…:D)

  1. Komentar?
    Dasar penjaplak tanpa permisi?
    Emang situ yang bikin?
    1000000% pasti bukanlah….
    Mana mungkin kamu yang bikin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s