Membaca atau Menulis

Dua buah kegiatan yang bagai sekeping mata uang, satu sisi membaca dan sisi lain menulis, tetapi menanggung tanggung jawab yang berbeda. Membaca ya membaca, kalo menulis yang harus dibaca dulu udah bener blom tulisannya, udah sesuai belum setiap kata dan kalimat dengan maksud yang dituju, sudah tersusun dengan kalimat yang mudah di fahami belum, sudah dapat dipertanggung jawabkan belum jika tulisan itu mengandung hubungan dengan pihak ketiga dll. Intinya menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan, tetapi menulis menuntut adanya sebuah tanggung jawab yang lebih dari sekedar membaca.

Mereka yang menulis, biasanya suka membaca (gila membaca), tetapi yang membaca belum tentu suka menulis, hal ini dikarenakan, oleh perihal diatas tadi, menulis membutuhkan tekad tambahan selain tekad membaca.Membaca buku Api di Bukit menorah yang, anda suka baca buku tersebut tentu tahu sendiri betapa panjangnya jilid buku tersebut yang kalau dibariskan konon bisa berkilo kilo meter.

Membaca memiliki sebuah yang mampu menghanyutkan suasana sekitar kita manakala terjadi sebuah reaksi antara kita yanhg diwakili mata dan otak vs pengarang yang diwakili oleh buku. Reaksi yang membuat kita terlempar kedalam dunia khayal sang pengarang, itulah yang saya rasakan dan juga pacar saya rasakan manakala kita membaca buku yang tune in dengan perasaan kita.

Menulis berarti menuangkan apa yang ada dikepala kita menjadi barisan kata sehingga maksud dari ide  yang ada di benak otak dan rasa hati kita dapat diketahui oleh orang lain melalui media tulisan. Menulis sebenarnya sama dengan berbicara tetapi media yang digunakan berbeda, berbicara menyampaikan ide dan gagasan melalui lisan dan dapat saja dengan spontan, Sedangkan menulis membutuhkan perencanaan, apa yang hendak saya tulis, dari sudut pandang mana saya menulis dll. Yang sulit bagai saya sewaktu menulis, dari mana saya memulai, kata apa yang harus saya tulis. Sewaktu menulis puisi atau semacam perasaan yang coba dikeluarkan lewat tulisan biasanya lebih mudah mengalir karena yang namanya juga puisi orang lain ngerti apa nggak urusan no 2 yang penting perasan gua udah terwakili dengan puisi tadi.

Saya mulai menulis setelah saya memiliki blog, pertama kali bikin blog masih bingung mau nulis pa disitu sehingga terbengkalai. Beberapa waktu berikutnya ada lagi keinginan bikin blog lagi, tetapi lagi lagi kandas ditengah jalan….maklum support sama sekali ga ada, sampai akhirnya bikin lagi entah yang keberapa dan berhasil eksis walau tersendat sendat sampai sekarang dengan pengunjung yang baru 7 ribuan, dalam menulis sempet juga stuck bebrapa bulan tidak terupdate karena masalah non teknis, tetapi sudah mulai bertulis tulis lagi. Walau stuck saya masih menyimpan tulisan tulisan yang males saya terbitkan waktu itu.

Bagi saya menulis memiliki sebuah suasana yang berbeda, sekarang ini saya mencoba membuat keseimbangan antara membaca dan menulis, dengan proporsi 20:80, tapi sekarang saya lebih ingin kebanyakan menulis, karena kalo saya nulis maka idepun bergulir tak henti memberi pencerahan diri, maka bagi saya menulis itu gak mungkin berhenti, menulis selalu bisa berbeda, menulis tidak hanya satu hari tetapi bisa berhari hari ketika nunggu wangsit, nunggu ilham, nunggu ide yang bisa dijadikan bahan tulisan.

Dulu saya menulis ingin agar tulisan saya bagus dan dibaca orang, keinginan itu justru menjadio penghambat saya dalam mengeluarkan ide, ada ketakutan ide saya hanya lewat begitu saja, ide saya tidak difahami orang, ide saya jelek, ide saya aneh dll. Tetapi sekarang semua itu saya tinggalkan, saya sekarang menulis karena ingin menulis, apa yang ada di hati dan otak saya itulah yang berubah menjadi sebuah tulisan. Apakah tulisan itu akan dibaca orang atau tidak bukan masalah saya, masalah mereka kenapa tidak mau membaca apa yang saya tulis…hehehehe. Jika bernasib mujur ide ide menulis seakan antri berebut hendak didahulukan sehingga tak jarang 3 atau 4 tulisan pendek 3-4 halaman dari sebuh ide muncul, saya belum sanggup untuk menuliskan ide menjadi sebuh ceritera yang berdurasi 100 halaman jangankan 100, 20 sampai 30 halaman saja tidak sanggup, belom sanggup, tetapi saya ingin kearah itu.

Saya ingin menulis sebagaimana Dr.Karl May yang mampu menghadirkan kisah kisah di padang rumput di amerika dengan segala keindahan dan suasana Indian pada waktu itu, Tom Clancy yang mampu menghadirkan suasana konspirasi internasional yang penuh ketegangan, Kho ping hoo yang mampu mengajak pembacanya seakan berada di peradaban masa lalu tiongkok berjalan mendaki pegunungan kunlun berjuang di gurun gobi dll, SH Mintaraja yang membuat pembacanya seakan berada di tlatah mataram bersama raden Sutawijaya dan mengembara bersama Mahesa Jenar berkeliling kerajaan demak, JK Rowling yang menyihir pembacanya selalu berada dalam suasana sihir, sebagai muggle saya berasa menyaksikan quidditch didepan mata, berasa dementor ada didepan saya yang siap menyerang, atau teriakan mantra expecto patronum!!, Michael Crichton yang membawa kita kembali keabad pertengahan di Time Line dan mengajak melihat pertunjukkan T-Rex, Dinosaurus,  di Jurrasic Park dan masih banyak lagi yang berhasil mengajak pembacanya ikut serta dalam alur cerita.

Menulis berarti kita membuat semacam jejak bagi hidup kita, jejak rekam yang bisa dibaca nanti oleh cucu kita. Menulis membuat kita berfikir tanpa harus stress, berfikir membuat otak kita terus terlatih, otak yang terlatih tidak akan cepet pikun. Kali aja begitu……belom di riset sich.

Semoga harapan itu tumbuh kembali melalui menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s