Erik Weihenmeyer dan Layangan sebagai sebuah pelajaran

Layangan, pasti semua sudah pada tahu apa itu layangan, sebuah benda yang ringkih dari kertas tipis dan bambu yang tipis sebesar lidi diiket sama benang jahit.Tetapi apa yang terjadi jika layangan itu sudah naik, layangan yang ringkih itu membumbung tinggi, semakin besar angin semakin cepat naik, sebaliknya ga ada angin dia gak akan naik.

Apa pelajaran  yang bisa dipetik dari layangan? Layangan dengan segala keterbatasannya mampu merubah angin yang besar menjadi daya pendorong kea rah yang lebih tinggi, artinya tantangan, masalah, beban hidup, apapun namanya bukan berarti membuat kita seperti kehilangan harapan, tetapi justru membuat harapan kita makin berkibar, harapan kita akan penuh dengan kualitas ujian, bukan sekedar keberhasilan tanpa usaha, tetapi keberhasilan yang diiringi sebuah usaha akan memiliki kualtias keberhasilan yang berbeda.

Pernah mendengar cerita atau nonton film or baca buku yang judulnya TOUCH THE TOP OF THE WORLD, kisah Erik Weihenmeyer ( saya kebetulan sempet nonton clipnya….bikin terharu dan very inspiring bangetss). Erik adalah orang buta yang ingin menaklukan Everest (Puncak Everest) di Himalaya? Awalnya Erik ditawari sahabatnya untuk bergabung dalam ekspedisi menaklukkan Mount Everest bersama sahabat-sahabatnya yang lain dan ternyata Ayahnyapun sangat mendukung banget, bahkan ayahnya minta dukungan ke perkumpulan anak-anak tuna netra  & berusaha menggalang dana untuk ekspedisi tersebut. Berkat dukungan dari perkumpulan anak-anak tuna netra, terkumpul dana beberapa ribu dolar.

Erik kemudian dan sahabatnya yang juga berpengalaman untuk pergi everest kemudia berdiskusi panjang lebar maka tercapailah kesepakatan bahwa mereka akan mempersiapkan diri, maka mulailah Erick mempersiapkan diri dengan program program latihan fisik dibantu oleh sahabatnya tadi sampai akhirnya mereka merasa cukup siap untuk berangkat.  Pada saat dimulainya ekspedisi ke Mount Everest, yang ikut ekspedisi ini adalah semua sahabat-sahabat Erik dan PV sahabatnya tadi sekaligus mentor, karena sebelumnya si PV ini sudah pernah ke Mount Everest, jadi udah tau dan hafal sama gunung tertinggi itu. Semua sahabat-sahabatnya memperlakukan Erik layaknya orang normal (sebenernya atas permintaan Erik sendiri untuk diperlakukan seperti itu).
Dengan sabarnya si PV ngasih arahan & semangat ke Erik. Intinya adalah Erik harus tetap fokus, walaupun dia buta & berusaha semaksimal mungkin.

Berangkatlah mereka menuju ke Everest dengan diketuai oleh sahabat Erick yang melatih dia sebelum berangkat. Perjalanan mendaki puncak everest bukan perjalanan biasa, tetapi perjalanan melalui padang es yang sangat luas membutuhkan usaha yang luar biasa. Ditengah perjalanan ketua tim, terkena pneumonia, tim harus beristirahat, bagi ketua tim ini sebuah pilihan yang berat, bertahan ikut sampai diatas bersama tim yang dibuatnya bersama sama Erick yang dengan waktu lama mempersiapkan perjalanan ini, berat rasanya harus meninggalkan ini semua, dalam ikatan emosional yang berat dia aharus memutuskan dan dia memutuskan untuk turun, demi keberhasilan tim, bukan keberhasilan dirinya. Akhirnya ketua tim di evakuasi, kemudian Erick membuat rapat evaluasi dan mengatakan siapa yang ingin mundur silakan tidak ada masalah.Semua anggota terdiam, akhirnya salah satu dari mereka mengatakan kami akan mengantarkamu Erick, mengantarkanmu ke atap dunia. Semua anggota tim pun sepakat untuk mengantarkan Erick sampai ke puncak.

Akhirnya dengan perjuangan dan kerjasama antara semua anggota tim maka Erick pun menginjakkan kaki dipuncak everest. Pesan yang sampai dikita adalah Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, tak ada sesuatu hasil yang baik yang sempurna hanya dengan menunggu, semua hal yang terbaik yang ingin kita dapatkan harus lah kita perjuangkan dengan segenap hati kita. Jika kita mendapatkan sebuah kekecewaan kenapa begini, maka bertanyalah kita pada diri kita apakah usaha saya sudah maksimal?. Erick mampu memaksimalkan potensi semua anggota timnya, dan semua anggota timnya memiliki satu visi “mengantarkan Erick ke puncak everest” visi itu menjadi sebuah obsesi bagi seluruh anggota tim, semuanya memberikan yang terbaik yang mereka miliki, maka kesulitan demi kesulitan yang mereka hadapi bukan menumbangkan mereka tetapi justru mengokohkan tekad mereka, sehingga keberhasilan inipun menjadi sebuah hadiah bagi mereka semua. Mereka lah yang mengawal Erick, seorang tuna netra yang menginjakkan kakinya di everest, merek bisa mengatakan pada anaqk anak mereka cucu mereka bahwa ayah mereka ada disana bersama Erik.

Kisah yang sangat Inspiring dan mengharukan sekaligus dapat memberikan motivasi bagi yang membaca dan menontonnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s