Emosi dan Komunikasi Empatik

Emosi adalah sebuah ungkapan jiwa. Mulai bayi kita sudah memiliki emosi yang akan tetap mengawal kita sampai kita mati. Emosi diciptakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita. Bentuk emosipun bermacam-macam, tergantung keadaan dan situasi apa yang sedang kita alami. Menangis, sedih, tertawa terbahak bahak begitu juga marah adalah ungkapan emosi yang keluar. Menangis, sedih dan tertawa mungkin tidak terlalu memberikan efek yang luar biasa, tetapi emosi yang keluar dalam bentuk kemarahan  bisa memberikan efek yang luar biasa.

Tadi pagi saya keluar rumah dengan bentuk emosi kemarahan, karena mengalami sesuatu hal yang memancing emosi tersebut timbul, dan sepanjang perjalanan emosipun tersalur secara tidak cerdas, lalu timbul kesadaran, ingin menulis tentang emosi menurut saya.

 

Berdasarkan pengalaman kata emosi sering diidentikkan dengan kemarahan, dan kemarahan timbul karena ada sebuah ketidak cocokan antara keinginan diri, keegoisan, rasa ke akuan dengan lingkungan. Misalnya begini, masuk kamar mandi melihat air yang kosong, pakaian kotor, maka jika emosi kemarahan yang dominan maka hasilnya adalah sebuah kemarahan memprotes keadaan tersebut.

Kemarahan membutuhkan obyek pelampiasan, dan siapa obyek tersebut? Tentunya adalah mereka yang berada disekitar kejadian perkara. 

Jika emosi orang tua terhadap anaknya yang tidak mau belajar maka akan tersalurkan lewat kata-kata untuk menyuruh anaknya belajar, bentuk kata-kata yang keluar sangat tergantung dari tingkat emosi orang tua tadi. Emosi dalam bentuk kemarahan yang tersalur dengan kata-kata marah maka anak tersebut mau belajar, walau dengan kondisi takut. Jadi mau belajar karena takut dimarahin.

Seorang Manajer yang marah terhadap anak buah dikarenakan pekerjaan yang tidak terselesaikan, maka yang timbul adalah emosi, kenapa pekerjaan tersebut tidak selesai.

Manajer adalah jabatan untuk mengatur system pekerjaan yang terkelola dalam suatu system dan sebaiknya luapan emosi dalam bentuk kemarahan seorang manajer seharusnya sangat berbeda dengan kemarahan yang pertama yang dialami oleh seorang ayah tadi. Pertanyaan nya dimana letak perbedaannya? Letaknya adalah pada obyek yang menerima luapan emosi tadi. Seorang anak dengan tingkat emosi yang masih rendah, tentunya masih mampu untuk menuruti kehendak orang tua, tetapi jika yang dimarahi adalah seorang yang dewasa maka akibatnya tentu akan lain. Sebagai manusia dewasa, maka tingkat emosipun akan turut berkembang, dan apa akibatnya jika dua orang dewasa saling meluapkan emosi.

Disini kita memerlukan apa yang kita sebut penyaluran emosi. Pak Covey dalam buku 7 habit of highly effective people mengatakan Berusaha lah untuk mengerti terlebih dahulu baru dimengerti, maka cobalah menarik nafas sebelum marah dan mencoba mencari jawaban kenapa bawahan saya tidak mampu menyelesaikan pekerjaanya, ini merupakan sebuah prinsip komunikasi empatik yang menyelaraskan kekuatan emosional seorang manajer dengan bawahannya. Dalam kasus pertama tadi memarahi anakS bukanlah sesuatu yang dapat diberikan pembenaran, jangan akarena sebagai seorang ayah yang karena anaknya masih kecil, maka boleh untuk dimarahin. Sang Ayah juga harus melakukan hal yang sama dengan manajer tadi,  agar sinergi kekuatan pun akan terjalin, sehingga anak tadi akan mau belajar dengan sendirinya.

 

Teori Termodinamika pertama adalah “energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan tetapi dapat dikonversi dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Dalam mekanika kita mengenal bahwa besar usaha oleh suatu gaya pada  suatu benda = hasil kali komponen gaya pada arah jalan dg panjang jalan tersebut. Artinya ada sebuah pertukaran tenaga antara sistem dg lingkungan dan sebaliknya dapat juga  dilakukan oleh sistem dapat pula dilakukan terhadap system……(bingung euy..)

Maksudnya begini Jika Emosi kemarahan adalah energi maka rubahlah energy emosi tadi menjadi energy dalam bentuk lain dalam lingkungan tersebut diantaranya adalah dengan membentuk energi empatik yang mencoba untuk menegerti sebelum dimengerti, maka system tadi yaitu kemarahan terhadap anak buah akan berubah menjadi sebuag sinergisitas yang saling menguntungkan. Sungguh saya yakin dengan hal ini.

System hubungan bos-anak buah bukan lah hubungan irreversible (satu arah) tetapi hubungan yang terjadi adalah hubungan reversible, ada sebuah kesetimbangan yang terjadi, emosi akan menggiring kita pada ketidak seimbangan, dan ketidak seimbangan bukan hanya menggangu anak buah saja tetapi system secara keseluruhan. Dalam Bab yang lain pak Covey menekankan perlunya sebuah Paradigma saling ketergantungan agar kesetimbangan tetap pada tempatnya, sinergisitas terwujud bukan karena dorongan searah dari atas ke bawah tetapi adanya sebuah kerja sinergi diantara pihak-pihak yang berada dalam suatu sistem.

Emosi bukan sesuatu yang negative manakala kita sanggup merubahnya menjadi energi dalam bentuk lain yaitu energi empatik sehingga energi potensial yang ada di dalam diri anak buah mampu terekspresi dan sang Bos pun memberikan reaksi berupa apresiasi. Semoga kita terutama mampu melakukannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s