Tak Bisa Sebutkan Berapa Rumahnya, McCain Diserang Obama

SEBUAH PERSPEKTIF SOSIAL

Sebuah judul di Detik.com tentang sebuah pertarungan antara dua kubu Calon Presiden Amerika serikat Obama Vs McCain. Saya tidak hendak menulis tentang pertarungan pemilihan presiden tersebut tetapi disini ada sebuah ada sesuatu yang menarik untuk disikapi, yaitu 1.Kedewasaan politik dan 2.Kepekaan Sosial

1.Kedewasaan Politik

Kedewasaan politik yang saya maksud disini adalah antara yang mengkritik dan yang dikritik tidak merasa sebagai hal-hal yang harus disikapi emosional yang luar biasa apalagi harus ke pengadilan untuk mengadukan lawannya dalam urusan pencemaran nama baik. Sudah menjadi pemandangan disetiap pertarungan presiden di negara tersebut untuk saling mengkritik dan menjatuhkan disetiap ada kesempatan dan hal ini yang sebenarnya patut untuk dijadikan semacam cermin kedewasaan dari para patriot politik negeri ini yang katanya ingin berjuang untuk Indonesia yang lebih baik,

“Pekan lalu, McCain juga berujar bahwa definisinya tentang orang kaya adalah mereka yang berpenghasilan US$ 5 juta per tahun. Menurut McCain, perekonomian AS kuat secara fundamental.
Obama pun menyerang McCain soal komentarnya itu. “Saya rasa jika Anda berpikir kaya berarti Anda harus mendapatkan US$ 5 juta dan jika Anda tidak tahu berapa banyak rumah yang Anda miliki, maka tidak mengherankan kalau Anda pikir perekonomian kuat secara fundamental,” cetus Obama”.”Tapi jika Anda seperti saya, dan Anda punya satu rumah atau Anda seperti jutaan orang yang saat ini berjuang untuk membayar hipotek mereka supaya tidak kehilangan rumah mereka, Anda mungkin akan punya perspektif berbeda,” imbuh Senator Illinois itu”

Kutipan tentang serangan Obama kepada sang rival McCain.

2.Kepekaan Sosial

Kepekaan sosial yang terlihat disini, kemampuan Obama melihat bahwa McCain kurang berempati terhadap apa yang dialami masyarakat kelas bawah dimana sampai tidak tahu berapa jumlah rumah yang dimilikinya…ck..ck..ck.

Saya sangat setuju dengan Pak Obama berkaitan dengan ucapannya, dan seandainya saja ucapannya tersebut ditujukan kepada para politikus dan para pejabat negeri ini atau para konglomerat pengemplang utang, yang memiliki milyaran bahkan trilyun rupiah mungkin di bank sebagai pohon duit mereka yang akan terus berbuah, tetapi saya juga gak yakin apakah ucapan/kata-kata tadi bisa membuat merah muka mereka yang memang sudah tebal.

Perspektif yang berbeda akan terus dialami oleh kita para jelata yang mengais rupiah demi rupiah hanya untuk membayar SPP anak sekolah yang 50 ribu rupiah, atau buat beli garam esok hari. Uang berjumlah 50 ribu bagi mereka yang diatas yang mungkin tidak seberapa, tapi bagi para ndeso di pedesaan akan jelas memperpanjang nafas mereka, walau dengan harga-harga yang sekarang ini bukan jaminan nafas mereka akan panjang.

Berapa harga rumah sekarang ini?Berapa gaji terendah seorang pegawai?, Saya tidak hendak menjawab, karena sudah bukan rahasia lagi, bahwa sangat tidak pernah mungkin bagi seorang pewawai dengan gaji 300 ribu untuk memiliki rumah, ditengah berbagai kebutuhan mereka, kecuali ada keajaiban mereka masih bisa menabung dan jika bernasib baik baik mereka bisa menabung 50 ribu selama 100 bulan dan bisa membayar uang muka rumah sangat sederhana sekali(RSSS) dan harus berpuasa untuk melunasi sisanya kreditnya, atau pilihan lain menabung selama 1000 bulan (84 tahun) dan beli cash rumah seharga 50 juta.Gak Mungkin kan???, yang mungkin apa? Ya Pemerintah membuat perumahan-perumahan murah seperti target kementrian perumahan rakyat. Harga nya berapa? sama gak terjangkau juga? Apapun skenarionya tampaknya yang miskin akan semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya.

Keadilan sudah menjadi barang mewah yang entah ada dimana. Pertanyaan Obama tadi bisa juga ditanyakan ke Pak JK atau Pak SBY punya rumah berapa? atau punya mobil berapa?. Perspektif berbeda adalah karena gaya hidup yang berbeda antara jelata dan kaum punya. Khalifah Umar Ibn Khathab tidak segan-segan berpakaia kumal, lalu keluar malam dan menjenguk keadaan rakyatnya dan tidak segan-segan memanggul sekarung gandum untuk seorang nenek yang kelaparan…kenapa Pak SBY, pak JK, pak Mentri2 atau pak-pak konglomerat juga sigap keluar masuk kampung daripada sekedar bikin teori-teori. Alasan Bapak saya cukup mengerti, kesibukan mengurus negara yang tidak kecil bukan perkara yang bisa dianggap ringan, saya juga kurang tidur memikirkan rakyat indonesia, saya juga kurang istirahat memikirkan bagaimana membangun indonesia. Itukan jawaban bapak? tetapi kalo bapak kurang tidur, dan kurang istirahat , Bapak masih bisa tidur di kasur yang empuk dan masih bisa istirahat diruang ber-AC, Bapak-bapak pasti memiliki perspektif yang berbeda jika sekali-kali berobat ke puskesmas, atau tempat tidur bapak coba digulung dulu tidur di tikar saja, AC di ruangan sekali-kali dimatikan, makan langsung di warteg atau beli gorengan aja sekedar pengganjal lapar. Cobalah merasakan apa kehidupan jelata sebagaimana Rasulullah pun merasakan lapar sebagaimana para jelata juga lapar, atau melihat Gandhi yang hanya menggunakan kain demi perjuangannya, semua itu masih cocok dan tidak lekang oleh zaman.Koruptor/Petualang Politik dll akan terus ada jika perspektif kita memandang bangsa ini terus berbeda Samakanlah prespektif kehidupan kita. Mari Berjuang Untuk Indonesia yang lebih baik…Nyalakan api perjuangan kita….jangag buang mimpi untuk Indonesia yang lebih baik walau sedetik pun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s