SURAMNYA BAYANG-BAYANG

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

by

SH.Mintardja

….

Arya Penangsang yang duduk berhadapan dengan Adipati Pajang itu tiba-tiba justru

tertarik kepada keris Adipati Hadiwijaya. Dalam ruang yang hening tegang itu,

tiba-tiba saja Arya Penangsang bertanya kepada Adipati Hadiwijaya,” Adimas,

nampaknya keris adimas itu memancarkan cahaya tuah yang luar biasa besarnya.

Apakah adimas memiliki keris yang baru?”

“Bukan kakangmas,” jawab Hadiwijaya,” Ini adalah kerisku yang dahulu.”

“Sambil menunggu, apakah aku diperkenankan meminjam keris adimas. Aku tertarik

sekali karena nampaknya aku belum pernah melihat keris adimas yang satu ini.”

Adipati Hadiwijaya menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Arya Penangsang. Namun

yang dilihatnya adalah senyum dibibirnya yang hampir tertutup oleh kumisnya yang

tebal.

“Apakah aku terlalu berprasangka,” bertanya Adipati Hadiwijaya di dalam hatinya.

“Mungkin kakangmas Arya Penangsang benar-benar sekadar ingin mengisi kekakuan

suasana yang menegangkan ini. Tetapi satu-satunya cara adalah demikian.”

Karena itu, maka akhirnya Adipati Hadiwijaya itu telah menjawab, “Keris ini

bukan keris yang baik kakangmas. Jika sekilas keris ini nampak lebih baik dari

yang lain, itu hanya ujud luarnya saja.

“Ah,” desis Arya Penangsang. “Jangan merendahkan diri begitu. Aku tahu bahwa

adimas memiliki ketajaman penglihatan atas jenis-jenis pusaka dan benda-benda

bertuah. Karena itu, biarlah aku melihat keris itu barang sebentar.”

Adipati Hadiwijaya masih ragu-ragu. Ia melihat Arya Penangsang itu juga membawa

keris sendiri. Jika ia bermaksud buruk, maka ia tidak perlu meminjam kerisnya

yang belum tentu memiliki daya kekuatan sebagaimana keris Arya Penangsang yang

terkenal itu. Adipati Hadiwijaya mengenali keris Arya Penangsang itu sejak lama.

Keris yang diberi nama Kiai Setan Kober itu merupakan keris yang sulit dicari

duanya diseluruh Demak.

Karena itu, akhirnya Adipati Pajang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya

di dalam hatinya, “Aku terlalu berprasangka.”

Dengan demikian, maka Hadiwijaya itu pun menjawab, “Baiklah kakangmas. Tetapi

kakangmas jangan mentertawakan keris itu. Keris yang barangkali tidak berarti

dibandingkan dengan Kiai Setan Kober yang kakangmas bawa itu.”

Adipati Jipang itu tersenyum. Namun keningnya berkerut ketika ia melihat Adipati

Hadiwijaya itu benar-benar menarik kerisnya yang diselipkannya di punggungnya.

Dengan gerak naluriah Adipati Pajang itu justru bangkit berdiri dan bergeser

surut.

Adipati Hadiwijaya tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Nah, bukankah

keris ini tidak berarti apa-apa bagi kakangmas.”

Arya Penangsang memandangi keris itu sejenak. Namun kemudian ia pun bergeser

pula untuk menerima keris itu, meskipun ia tetap berhati-hati.

Sejenak Adipati Jipang itu mengamati keris Adipati Hadiwijaya yang berada

ditangannya. Namun tiba-tiba wajah Arya Penangsang itu berubah. Senyumnya

tiba-tiba saja telah lenyap dari bibirnya. Pandangan matanya pun telah berubah

pula seakan-akan memancarkan api kemarahan yang sudah lama tertahan di dadanya.

Dengan nada berat Arya Penangsang itu berkata, “Keris seorang Adipati tentu

keris yang bertuah. Karena itu, aku ingin mencoba, apakah benar dengan keris ini

aku akan dapat mengakhiri pertentangan antara Pajang dan Jipang. Bukan dengan

satu tusukan di dada menembus jantung, tetapi dengan goresan kecil di lengan

atau bahkan di ujung jari. Keris seorang Adipati akan mampu membunuh seseorang

yang betapapun saktinya hanya dengan goresan kecil yang tidak lebih dari

sentuhan ujung duri.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menegang. Ternyata bahwa kecurigaannya bukannya

berlebihan. Bukan sekadar prasangka atau bahkan mimpi buruk.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Adipati Jipang itu telah bersikap. “Apa artinya

kakangmas?” bertanya Adipati Hadiwijaya. “Kita adalah laki-laki,” jawab Arya

Penangsang. “Selama ini kita telah mengorbankan berpuluh bahkan beratus orang

yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan kita. Karena itu, marilah

persoalan kita ini kita selesaikan sendiri. Kita selamatkan para prajurit bahkan

orang-orang yang tidak bersenjata di padukuhan-padukuhan.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menjadi tegang. Namun sebagai seorang Adipati maka

Hadiwijaya tidak akan ingkar. Ketika pada mulanya ia mencoba untuk berlaku

sebaik-baiknya dihadapan orang yang sama-sama mereka hormati, maka sikap Arya

Penangsang itu benar-benar telah menggelapkan hatinya dan hilanglah segala macam

unggah-ungguh yang harus dilakukannya.

Karena itu, maka Adipati Pajang itu pun mundur selangkah. Ia pun tiba-tiba telah

menyingkapkan bajunya yang panjang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Inilah

pusakaku yang sebenarnya kakangmas. Kakangmas tentu mengenal Kiai Crubuk.

Meskipun ujudnya sangat sederhana, namun aku yakin bahwa pusakaku ini akan dapat

menyelesaikan persoalan.”

“Bagus,” geram Arya Penangsang. “Ternyata kau jantan juga adimas.”

Adipati Pajang pun telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu Arya Penangsang menjadi ragu-ragu, justru karena Adipati Pajang

telah menggenggam pusakanya yang memang sudah dikenalnya lebih dahulu dari

Crubuk.

Meskipun demikian Adipati Jipang itu ingin mencobanya, jika keris yang

dipinjamnya dari Adipati Pajang itu tidak dapat membunuh pemiliknya sendiri,

maka ia masih membawa kerisnya yang disegani oleh setiap orang diseluruh Demak,

Kiai Setan Kober.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat gejolak perasaan kedua Adipati itu

memuncak, orang yang sama-sama mereka hormati itu telah memasuki ruangan. Betapa

terkejutnya orang itu. Namun kedua Adipati itu pun ternyata telah mengurungkan

niatnya untuk berperang tanding…….download disini untuk membaca secara lengkap

 

5 comments on “SURAMNYA BAYANG-BAYANG

  1. saya adalah pengagum sifat ksatria arya penangsang, tapi saat ini saya mengambil hikmah dr peristiwa masa lalu itu bahwa sesakti dan sekuat apapun manusia pasti akan kalah dgn kecerdikan dan keculasan…

    Ada manfaat dari sebuah cerita, ada cerita dari sebuah kisah, salam kenal bos, punya sayap-sayap yang terkembang gak? lanjutan dari suramnya bayang-bayang

  2. 🙂 Cerita aslinya tidak begitu… saya tidak seperti apa yang dikisahkan para sastrawan bayaran hadiwijaya untuk menggelapkan kebenaran. Saya mati bukan karena dibunuh oleh sutawijaya… pada saat itu saya pergi jauh untuk bertapa dan menghilang dalam pertapaan menuju abad ini.

    Saya akan kasih ganjaran kepada para sastrawan yang mengarang cerita tidak benar tentang saya. Sungguh suatu dosa yang besar menggelapkan sejarah…

    Kita lihat saja nanti diabad ini saatnya kebenaran akan terungkap, dan sejarah palsu akan musnah semua… Allaaaahuakbarr….!!!

  3. History berasal dari dua kata his (seseorang)dan story (cerita), berarti cerita seseorang. Jadi sebenarnya dalam berbagai kisah sejarah dunia termasuk sejarah perkembangan Islam nusantara banyak sekali distorsi(kebohongan2), yang dibuat para pujangga bayaran penguasa tertentu. Banyak contohnya; arya penangsang dikatakan pemberontak (padahal praktis demak vacuum of power sepeninggal sultan Tranggono, sebab sunan prawoto penggantinya tidak mendapat pengakuan dari dewan wali). Malahan Jaka Tingkir yang ‘tukang gelut’ (kayak cerita2 TV dan sutawijaya yang hobi kawin (banyak cerita affairnya di kisah2 silatapi di bukit menoreh dll), justeru dijadikan pahlawan sepanjang masa. Harus ada pelurusan sejarah islam nusantara.

  4. kalo pengen tau kebenaran ya pada ahli sejarahnya…(itupun tidak ada jaminan pasti benar…setidaknya mendekati benar..) bukan pada cerita SH Mintarjda ini…ini memang sekedar cerita fiksi yg dikait2kan sejarah… banyak nama tokohnya juga asal comot …beliau sendiri mnyatakan ini hanya cerita khayalan…bukan sejarah… termasuk cerita jaka tingkir di TV….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s