Gajah Mada

Pentalogi Gajah Mada

 

Gajah Mada, Tahta dan Angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat, Madakaripura Hamukti Moksa adalah judul-judul dalam buku pentalogi karya Langkit Kresna Hariadi (LKH).

Kisah berawal dalam buku pertama tentang pemberontakan Kuti yang tersohor karena berhasil mengusir Raja Jayanegara. Gajah Mada langsung hadir sebagai pusat perhatian walau diceritakan masih sebagai prajurit rendahan dengan pangkat bekel, kalo sekarang mungkin bintara kali ya Om El?. Buku pertama berceritera tentang taktik, intrik dan strategi menjatuhkan lawan, intelejen dan kontra intelejen di tuangkan dalam bahasa yang membuat segera ingin tahu siapa yang menang, sebagaimana novel atau fiksi sejarah yang hasilnya sudah kita ketahui. Demikian pula buku ini, kita semua mengetahui siapa pemenang dalam perseteruan antara Kuti dan Gajah Mada tetapi disini kita dibawa LKH menyaksikan bagaimana kira-kira kondisi Prabu Jayanegara yang di seret-seret ke kebun jagung menghindari sergapan Ra Kuti, satu hal yang menjadi catatan adalah dengan jumlah yang tidak terlalu banyak sewaktu melalui terowongan, dan sewaktu gajahmada membunuh salah seoarang bayangkara yang kepergok memberi tanda, mengapa teman yang menjawab sandi rahasia tidak ketahuan? atau dengan bermodalkan info “hati-hati dengan bayangkara yang bisa menirukan suara burung hantu”, seharusnya kenapa tidak dari awal saja di adakan sebuah kegiatan meniru bunyi binatang sejak dari awal tidak perlu harus menunggu jatuhnya banyak korban yang tidak perlu seperti mahisa kingkin yang harus meregang nyawa karena tertebas pedang lehernya.

 

Tahta dan Angkara sebagai buku ke dua menghadirkan intrik sekitar istana yang teramu dalam sebuah kisah yang rumit. Kematian Prabu Jayanegara menyisakan sebuah problem tentang kekosongan kekuasaan. Kedua Anaknya yang wanita ada dalam sebuah lingkaran pendapat yang sampai sekarang ini masih ada, Layakkah seorang wanita menjadi pemimpin? Jika ia menjadi pemimpin apakah ia tidak berada dalam bayang suaminya? Inilah yang menjadi benang merah dari buku ke-2. Intrik politik, pembunuhan politik, fitnah dan sebagainya mewarnai pergolakan politik majapahit saat itu.Ceritera dan kisah yang masih menyisakan pertanyaan di beberapa sudut kisah diatas tentang 1.Terlibatnya Bhayangkara Lembang Laut dalam prosesi pembunuhan, yang di yakini sebagai petugas yang menyusup hadir begitu tiba-tiba itupun disisipkan setelah ia terbunuh,Bapak LKH tidak mengawali kisahnya sebagai sebuah tugas resmi dari negara, tetapi tiba-tiba langsung terbunuh juga dan Gajah Mada tampak seperti tidak mengetahui operasi kontra intelejen yang dilakukan lembang laut, padahal posisi GM adalah seorang Panglima Bhayangkara, juga tidak diketahui bagaimana ending lembang laut yang punya jasa cukup besar apakah dia mati sebagai prajurit atau sebagai pengkhianat.2. Kisah tentang Gajah Enggon yang pingsan pun menjadi pertanyaan apakah dengan mendapat lemparan di dahi bisa membuat pingsan sedemikian lama, kecuali kalau mengenai bagian belakang kepala, mungkin gegar otak, dan tidak diketahui bagaimana cara Gajah Enggon melakukan operasi intelejen sendirian sedangkan pada saat itu digambarkan dia masih (pura-pura) pingsan dan senantiasa di tunggu oleh seorang emban tetapi kok bisa masih dengan leluasa keluar masuk, apakah tidak ada yang melihat sama sekali padahal siang bolong dan Gajah enggona kan orang terkenal, menyamar? apakah begitu mudah keluar masuk komplek istana tanpa ada pemeriksaan. Jadi terlihat terlalu hebat bhayangkara ini dimata pembaca (saya). Hal-hal kecil yang tidak mengganggu untuk sebuah novel fiksi sejarah yang membantu kita memahami benang merah kerajaan Majapahit.

 

Hamukti Palapa, adalah buku ke-3 dari pentalogi kisah ini, saya cukup terkejut karena dalam buku sejarah kita, dahulu waktu masih belajar sejarah sumpah palapa adalah GM tidak akan makan buah palapa sebelum nusantara bersatu, juga digambarkan palapa adalah buah yang terasa manis. Saya tidak tahu apakah sampai sekarang masih demikian? Dan LKH telah memberikan sebuah pandangan yang lebih jauh lagi dan sekiranya ini menjadi sebuah pembelajaran untuk tidak mengecilkan arti dari PALAPA yang sesungguhnya. Satu hal lagi yang saya mendapat surprise adalah ternyata sumpah ini dilakukan  tidak pada pemerintahan Hayam Wuruk tetapi pada Wali nya yaitu Putri Gayatri. Sebelum membaca buku ini, saya meyakini sebagaimana saya belajar dulu, bahwa sumpah tersebut dilaksanakan pada masa Majapahit mengalami puncak kejayaanya yaitu masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya Gajah Mada. Sebuah perjalanan sejarah yang sungguh luar biasa yang telah diceritakan kembali dalam bentuk novel, saya tidak sabar membaca lanjutan kisah nya di buku ke-4.

 

Perang Bubat, demikian judul buku ke-4 dari pentalogi GM, sebuah peristiwa sedih yang terjadi, sebuah noda sejarah kerajaan Majapahit. Rombongan yang seyogyanya akan berbahagia karena akan melangsungkan pernikahan harus tumpas tapis ( pinjem istilahnya ya Om El) di lapangan bubat. Sebuah peristiwa yang masih berbuntut sampai kini. Jangan pernah anda bayangkan anda akan menemui jalan Gajah Mada atau Hayam Wuruk di tatar Pasundan, itulah buntut sejarah. Dalam buku ke-4 ini dimasukkan tokoh fiksi Rishang Saniscara yang bukan tokoh sentral tapi cukup menjadi  tokoh yang mampu merubah keadaan, lewat lukisannya (Om El tampaknya berusaha membuat sebuah jembatan sehingga alur sejarah bisa dibuat bercerita). Pak LKH yang saya hormati disini kok saya  menjadi tidak sreg ya kalau diceritakan Putri Dyah Pitaloka seperti itu kelakukannya. Kok seperti tidak seorang putri. Ceritera bapak terlalu ke masa kinian sifatnya, seperti remaja putri masa kini yang sangat mudah jatuh cinta dan demi sebuah cinta dia sanggup melakukan apapun termasuk mengorbankan kehormatannya, apakah mungkin budaya seperti itu sudah ada dari jaman dahulu, kalau memang fiksi ya bagaimana yaaaa…Saya sendiri bukan orang jawa barat, tetapi saya lahir di jawa barat kok ngerasa nggak rela Putri Galuh Dyah Pitaloka diceritakan seperti itu, saya bukan apa apa nya loh pak. Semoga nggak ada perang bubat jilid 2. Mbok bisa dicarikan ide lain.

 

Buku ke-5 adalah Madakaripura Hamukti Moksa, buku terakhir yang menceritakan perjalanan GM dan kerajaan Majapahit. Akibat polahnya yang membiarkan terjadinya perang Bubat, GM di pecat dari jabatan Mahapatih dan GM pun pergi kesebuah wilayah dan menjadi rakyat biasa. Para pejabat perlu membaca kisah ini, yaitu GM tidak mengalami Syndrome of Power, tidak mencak mencak gak mau di pecat, tidak ngumpulin orang orang yang dibayar buat mendemo raja, tidak bikin pernyataan pernyataan yang membuat panas suhu politik walaupun GM juga memiliki massa pengikut juga memiliki rantai komando ke sejumlah pasukan, GM merasa bahwa dirinya hanya seorang abdi pemerintah yang bekerja untuk Majapahit dan jika Majapahit tidak lagi membutuhkannya ya sudah. Begitu ringan GM untuk lengser dari damper kepatihan yang membuat dirinya begitu berkuasa, tidak tampak ada mabuk kekuasaan dalam dirinya. Itu yang ingin Om El cerita begitulah seharusnya jadi pejabat. Tetapi sekaligus menjadi contoh, bahwasannya, kekuasaan yang terpusat pada satu titik kekuatan itu tidak baik, jika kekuatan yang menjadi tumpuan kekuasaan ini tidak ada atau melemah maka lemahlah kekuasaan tadi, ini yang di alami Majapahit sepeninggal GM, sehingga GM pun di panggil kembali untuk membantu Majapahit memulihkan kekuasaannya, kisah-kisah lainnya menjadi bumbu yang menyedapkan masakannnya Om El, hanya saja saya kok melihat ending yang terburu-buru untuk menyelesaikannya seperti yang tertulis disitu “kebahagiaan yang menular” kesan saya ceritera ini menjadi dipercepat dengan membuat kisah perkawinan yang beruntun yang dialami oleh anak-anak mereka (Gajah segara, kuda swabhaya, pratiwi) walau unheppy ending menimpa keluarga gajah enggon. Semoga diceritera lain endingnya lebih enak, kan kita beli lasli oh pak bukunya gak beli bajakan.

 

Buku yang enak buat dibaca, pertama saya ragu-ragu untuk membeli, karena harga yang lumayan saya takut kecewa kalo beli buku yang gak bisa saya nikmati, pada niat  yang ke dua akhirnya saya jadi membeli buku ini itupun hanya buku yang pertama, saya takut kecewa sebagaimana  kali yang pertama, kalo beli lima buku sekaligus, tetapi kekecewaan yang saya tunggu tidak hadir dan besoknya saya beli ke empatnya karena penasarans.thanks Pak Langit  yang telah berceritera menghadirkan buku ini sebagai tempat pembelajaran bagi generasi muda seperti saya. Saya lanjutkan tulisan saya ke buku Perang Paregreg….baca dulu akh..:)

4 comments on “Gajah Mada

  1. mas, ada link buat download perang bubat sama madakaripura hamukti moksa ngga? Kalo punya di share ya?

    Thanks b4

    Best regards
    Apiedh

  2. sumpah Hamukti Palapa terjadi pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi. yaitu ibunda dari Hayam Wuruk. dalam kidung sunda, diceritakan bahwa Gajah Mada dipersalahkan karena menjadi penyebab perang Bubat. namun hal ini tidak disebutkan dalam negarakertagama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s