Ujian Akhir Nasional-Pendidikan Yang Memusingkan…

Membaca kompas pagi ini Minggu, 11 Mei 2008, tentang “Gerilya Omar Bakrie”, betapa miris hati ini. Emosi ku pun tergugah, menangis dalam hati pun tak cukup..dan akupun berkaca kaca, aku menyesal kompas menurunkan berita itu, bukan di Head Line bukan di Halaman Pertama. Apa yang terjadi dengan bangsaku? Anak anak sekkolah yang seharusnya menjadi  tempat  harapan kita harus mengalami nasib yang sedemikian mengerikan. UAN sudah berakhir, perjuangan anak anak itu menunggu hasilnya…biarlah nanti kita lihat apa hasil dari sebuah UAN. Lapran dari SUMUT dimana guru-guru di gerebek oleh satuan ANTI TEROR DENSUS 88….mengerikan hanya karena “membantu agar para siswa lulus”, berdosakah mereka para guru itu ya berdosa tetapi siapa yang menikmati nya kalo para siswa menjadi lulus 100%, silakan anda menjawab sendiri…., Bapak MENDIKNAS? apakah bapak pernah di SD, SMP dan SMA. Apakah Bapak merasakan bagaimana susahnya jadi guru. SD, SMP atau SMA. Bapak menjadi menteri saya yakin Bapak memang PINTAR. Tetapi  Keadilan bukan hanya milik orang pintar, tapi orang yang kurang pintarpun berhak memiliki keadilan. Apa artinya keadilan jika hanya menjadi milik mereka yang berotak cerdas seperti Bapak. Keadilan adalah hak seluruh manusia. Sekolah bukan tempat untu menghakimi seorangan anak cerdas dan tidak cerdas, pintar dan bukan pintar, tapi UAN bapak telah menjadi HAKIM bagi anak-anak itu.Tidak Lulus UAN maka tidak pintar. Tidak lulus UAN maka tidak mendapat ijasah dan gubrak…. UAN bukan menjadi tempat mengasah ilmu yang sudah mereka dapatkan selama 3 tahun, tetapi malah menjadi momok bagi para siswa dan guru.

Saya bingung kenapa sistim ini masih menjadi andalan bagi negeri ini untuk menghasilkan siswa yang berkualitas. System pendidikan seperti apa ini yang hanya mementingkan hasil akhir, bukan dari proses kegiatan belajar selama 3 tahun.Oke UAN adalah cermin dari sebuah evaluasi belajar selama 3 tahun, tetapi  apakah setiap daerah sudah memiliki baku mutu kegiatan belajar yang terstandarisasi  dan terakreditasi dgn tingkat yang sama? Daerah Lampung dengan daerah Manokwari atau Balikpapan atau Condet, atau mungkin daerah Cikeas…apakah mereka memiliki standar pengajaran yang sama walau memiliki dan menjalankan kurikulum yang sama? Apakah ada data-data tervalidasi tentang hal itu….sya enggan menjawab, pertanyaan itu.

Pendidikan seyogyanya menjadi sebuah transformasi keilmuan sekaligus transformasi nilai dari seorang guru kepada anak didik nya, bukan sebatas menyerap/mentransfer  ilmu dengan cara cepat dan dikeluarkan secara tepat lewat ujian, tak peduli bagaimanapun caranya. Sisitem pendidikan yang dilakukan secara gradual sesuai umur SD-SMP-SMA adalah sebuah upaya agar setiap anak didik mampu memahami sebuah masalah yg sesuai dengan usianya, sehingga tidaklah mungkin memisah-misahkan masalah di setiap tingkat, satu persatu, bahkan seharusnya sampai ketingkat Perguruan Tinggi hal tersebut harus dipadukan. Pola tambal sulam tidak mungkin mampu membenahi system Pendidikan Nasional kita, tapi harus mulai dari awal sampai ke tingkat perguruan tinggi harus menjadi satu kinerja yang bersatu berintegrasi dalam sebuah pola pendidikan yang mampu bersaing di level internasional.

Daya saing SDM Indonesia rendah bukan kata kita tetapi kata hasil survey lembaga PBB, hal ini bukan harus diperdebatkan benar-salah,  tetapi harus menjadi sebuah peringatan bagi para pendidik-birokrat pendidikan-politikus senayan bahwa telah terjadi masalah di dunia pendidikan kita. Bagaimanapun hasil keluaran/output sebuah pendidikan adalah manusia dengan kemampuan yang bersaing baik di dalam negeri maupun luar negri.

UAN hendaknya bukan menjadi penentu kelulusan seoarang siswa tetapi menjadi sebuah parameter sebaiknya siswa tersebut diarahkan menjadi apa. Misalnya begini seorang siswa dengan hasil kajian/reviewantara nilai raport-UAN-dimensi sosial dan menghasilkan nilai dia 80-100, maka dia berhak ikut SPMB, nilai review 60-79, sebaiknya ke D3 kejuruan, dibawah nilai tersebut sebaiknya menjadi tenaga terampil dibalai latihan kerja, begitu pula dengan lulusan universitas memiliki kaidah demikian untuk menjadi master  atau doctor, sehingga sumber daya manusia kita memiliki pola Piramida. Hal-hal tadi hanya bayangan saya, bayangan orang bodoh yang mencoba mengajari para elit, yang berlomba lomba agar tingkat kelulusan UAN di tempatnya menjadi tinggi.

Dalam sebuah perjalanan saya menggu lalu ke daerah Sumatera Selatan, saya membaca sebuah Poster tentang seorang Kepala Daerah yang berhasil membuat Sekolah gratis SD-SMP-SMA di daerahnya, saya tertawa, tersenyum sendiri….sekolah gratis sudah menjadi  sebuah produk unggulan kampanye PILKADA, huh benar benar tidak memahami pendidikan si Bapak ini. Pendidikan gratis memang seharusnya menjadi hak warganegara, bukan karena dia Kepala Daerah maka sekolah menjadi gratis..benar benar pembodohan, baca tidak UUD 1945? “Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”, artinya apa Negara dan yang mewakilinya wajib menyelenggarakan pendidikan bagi setiap warganegara miskin atau kaya, semua sama haknya. Apa yang terjadi sekarang ini ada pungutan SPP di setiap sekolah, dikarenakan Negara masih belum mampu memberikan alokasi dana yang cukup pada batas minimal sehingga siswa masih diharuskan membayar dalam bentuk SPP. Pertanyaannya bagaimana jika Negara dan yang mewakilinya (Gubernur-Walikota/Bupati) mampu membiayai semua biaya pendidikan tersebut, maka wajib bagi mereka membiayai pendidikan tersebut.

Biaya Pendidikan bukan murah, harus disadari oleh semua pihak. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bukan saja bagi para orang tua tetapi juga bagi Negara ini. Alokasi 20% dari RAPBN hanyalah satu titik awal bukan akhir sebuah perjuangan pendidikan. Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar yang harus melibatkan seluruh elemen bangsa, agar bangsa iini tidak terus berada di ketiak bangsa yang ingin agar bangsa ini tetap bodoh. Bangsa ini berisi orang pintar yang tidak kalah kualitasnya dari bangsa lain, saya percaya itu. Bangsa kita juga baru saja mendapat kan  emas dari olimpiade Fisika, hasil yang sangat menggembirakan, beberapa professor dan doctor kita juga mendapat pengakuan internasional lewat jurnal jurnal mereka satu contoh saja pak Habibie, tetapi saya ingin mengatakan satu hal di BLOG saya ini, itu semua tidak cukup, segerombolan atau sekelompok orang pintar dan cerdas saja tidak cukup untuk membawa bangsa ini maju, bangsa ini membutuhkan kepintaran dan kecerdasan yang bersinergi menjadi sebuah kekuatan bangsa dan menjadi motor penggerak yang mampu menggerakkan banyak gerbong di belakang mereka, bekerja sama buka sama sama kerja. Dan hal yang perlu di ingat Hasil pendidikan tidak bisa dinikmati secara instant.

 

Semuanya sudah tahu, apa yang dilakukan oleh Jepang setelah kalah dalam PD ke II, pertama kali yang mereka lakukan bukan menghitung berapa jenderal yang masih mereka miliki, berapa pasukan perang yang masih ada? Akan tetapi mereka menghitung berapa GURU yang masih tersisa?Seorang Jenderal hanya bisa memerintahkan pasukannya berperang tapi dia tidak tahu bagaimana menghasilkan seorang yang bisa membaca, menulis dan memahami apa yang diperintahkannnya, hanya seorang GURU yang bisa melakukannya. Seorang Guru mampu menghasilkan lusinan Jenderal, Dokter, Insinyur.Jenderal tidak mampu melahirkan Jenderal, begitupula yang lain. Selanjutnya mereka sibuk menterjemahkan buku buku berbahasa inggris kedalam bahasa jepang agar mudah difahami, mereka mengirimkan siswa terbaik mereka keluar negeri dst. Sehingga kita bisa lihat apa yang sudah mereka dapatkan dari hasil kerja keras mereka………………………..sekian…(banyak data yang tidak valid karena hanya melihat Koran-tv-radio dan pengamatan pribadi saya..maaf jika banyak yang tidak valid…saya tidak hendak menyimpulkan apa apa tetapi itulah isi otak saya sewaktu saya menulis….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s