Api di Bukit Menoreh (1 – 100) SH MINTARDJA
Februari 7, 2010
SEKALI-SEKALI terdengar petir bersabung di udara. Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan diluar se-akan2 tercurah dari langit.
Agung Sedayu masih duduk menggigil diatas amben bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin dan suasana sangat mencemaskan.
“ Aku akan berangkat “ tiba2 terdengar suara kakaknya,Untara dengan nada rendah.
Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang pucat. Dengan suara gemetar ia berkata“ Jangan, jangan kakang berangkat sekarang”
“Tak ada waktu“ sahut kakaknya “sisa2 laskar Arya Penangsang yang tidak mau melihat kenyataan menjadi gila dan liar. Aku harus menghubungi paman Widura di Sangkal Putung. Kalau tidak, korban akan berjatuhan. Anak2 Paman Widura akan mati tanpa arti. Serangan itu akan datang demikian tiba- tiba”.
“ Tidakkah ada orang lain yang dapat menyampaikan berita itu? Potong adiknya.
“ Tak ada orang lain “ sahut kakaknya.
“ Tetapi…. “ bibir Sedayu gemetar.
“ Aku harus pergi “ Untara segera bangkit. Tetapi tangan adiknya cepat2 menggapai kainnya.
“ Jangan,jangan “ adiknya berteriak “aku takut”
Untara menarik nafas panjang. Katanya “ kau hanya akan berada di rumah ini sendirian malam nanti. Besok kau pergi ke Banyu Asri. Kau akan tinggal disana sampai aku pulang”.
“ Aku takut,justru malam ini “ sahut adiknya “ bagaimana kalau laskar yang liar itu datang kemari “
“ Mereka tak akan datang kemari “ jawab kakaknya “ aku tahu pasti. Mereka akan menyergap Paman Widura. Karena itu aku harus pergi”
“ Tidak – tidak “ mata Sedayu mulai basah. Dan akhirnya dari matanya itu melelehkan air mata.
Sekali lagi Untara menarik nafas panjang-panjang. tanpa sesadarnya ia terlempar kembali, duduk disamping adiknya. Hatinya menjadi bingung. Ia tidak dapat berpangku tangan terhadap laskar Widura yang sedang terancam bahaya. Tetapi adiknya benar2 penakut. Anak yang telah mendekati usia 18 tahun itu sama sekali menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sepeninggal ayahnya beberapa tahun yang lampau dan ibunya yang baru beberapa bulan, maka anak itu hamper tidak pernah berpisah darinya. Apalagi didalam kekalutan keadaan seperti saat itu. Sehingga dengan demikian Untara merasa se-akan2 memelihara anak bayi.
“ Sedayu” katanya kemudian “umurmu telah hampir 18 tahun. Dalam usia itu Adipati Pajang yang dahulu bernama mas Karebet, telah menggemparkan Demak, dan sekarang dalam usia yang muda pula, Sutawijaya berhasil melawang Penangsang yang perkasa “
“Aku bukan mereka“ jawab Sedayu
Untara mengeleng-gelengkan kepalanya, katanya “setidak-tidaknya kau harus malu kepada dirimu sendiri”
“Tetapi aku takut” Sedayu tidak menghiraukan kata-kata kakaknya.
Kembali Untara termenung. Adalah salahnya sendiri, apabila pada masa kanak-kanaknya adiknya itu terlalu dilindunginya. Kenakalan kawan-kawannya pasti akan dihadapinya. Karena itulah maka Sedayu terlalu tergantung padanya. Dan sampai masa dewasanya, ia tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri. Meskipun adiknya itu selangkah dua langkah diajarnya juga cara-cara membela diri dan didalam latihan-latihan dapat juga menunjukkan kelincahan dan ketangkasan, namun kelincahan dan ketangkasannya itu terbatas dibelakang dinding-dinding rumahnya. Hatinya terlalu kecil untuk berhadapan dengan dunia. Terasa betapa kerdil jiwanya. Apalagi setelah didengar oleh Agung Sedayu, betapa laskar Penangsang yang sedang berputus asa itu berkeliaran dilereng gunung Merapi.
Untara kini benar-benar kebingungan. Ia menjadi gelisah, sedang waktu merambat terus kepusat malam. Dan hujan masih saja memukul atap-atap rumah dan dedaunan. Baca entri selengkapnya »
Memuaskan rasa
Februari 6, 2010
Pergi
Februari 6, 2010
Tak ada lagi kata terucap
Tak ada lagi tatap sekejap
Tak ada lagi untaian bersayap
Pergi dalam diam
aku memang setan malam
bukan dirimu yang putih
dalam kesahajaan cinta
Bila diri ini musnah diangkasa
senyumlah
Bila diri ini hampa ditengah samudra
bahagialah dirimu….
telah berlalu mimpi buruk ditengah lamunan indah masa depanmu
sebentuk jerawat ditengah cahaya wajahmu
ku pergi dalam hampaku
ku hilang dalam kepenatanku
bahagialah dalam kemusnahanku
inilah jalanku..jalan akhir ku….
terbakar oleh impian diri
Tak Tahu
Februari 5, 2010
Tak ada lagi
Tak ada semua
Semu dan hitam
Tak lagi sama
Hanya ini
Tak mampu lagi
Biarlah hanya ini karena semua hilang
Lihatlah malam di keletihan ku
Februari 5, 2010
Diam
Februari 4, 2010
Menjual Diri
Februari 4, 2010
Pertanyaan saya: Apa harapan anda di kantor, atau di tempat kerja yang lama? Apakah sudah memenuhi harapan anda, melampaui harapan anda atau tidak akan pernah memenuhi harapan anda? Pertanyaan yang ke dua, Apa harapan anda, apa yang anda harapkan dari pekerjaan baru dan tempat baru dengan posisi yang kami tawarkan?
Diatas tadi adalah pertanyaan favourite saya jika melakukan wawancara, selain pertanyaan teknis. Dan entah karena pelamar nya bingung atau tidak siap mendapat pertanyaan tersebut, sehingga jawaban yang keluar selalu berputar putar tidak menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan tersebut adalah bentuk lain dari pertanyaan yang sudah sering ditanya jika kita melakukan interview, “Kenapa anda ingin keluar dari tempat kerja anda?” rata-rata pelamar sudah siap dengan pertanyaan tersebut dengan jawaban jawabannya. Baca entri selengkapnya »
Sebagian Generasi Kita….
Februari 3, 2010
Yang pake jilbab putih namanya puji astuti, yang jilbab merah susilawati. Seperti senyum mereka yang jujur…sejujur mereka ketika ditanya, kalau sudah besar mau jadi apa? Puji mau jadi dokter, tetapi susi bingung mau jadi apa.
Malam itu sehabis makan, bebek sambal ijo yang pedas di daerah cilandak, 2 orang anak menghampiri ku dengan membawa gelas plastik bekas aqua yang didalam nya sudah berisi beberapa lembar uang seribuan. Aku tanya mereka, udah malem gini (waktu itu sudah jam 21.00 lebih beberapa menit) masih disini, kok ga pulang? Rumah nya dimana? Baca entri selengkapnya »
Ketika Aku Mencintaimu Dalam Sunyi
Februari 2, 2010
Ketika Aku Mencintaimu Dalam Sunyi
Ketika sayangku padamu ada dalam sepi
Ketika Aku Mencintaimu Dalam Sendiri
Ketika Mencintaimu dalam dekapan kekosongan
Saat gambar mengucap beribu makna



















Kepada semua pihak yang gambarnya saya gunakan..melalui blog ini pula saya mohon izin pemakaian gambarnya untuk sekedar memenuhi hasrat pribadi saya…mohon maaf sebesar besarnya…atas tanpa izin menggunakan nya di blog saya…..kalau ingin dihapus saya juga tidak berkeberatan…terima kasih “











